Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 telah memasuki tahap yang sangat menegangkan, dan tim nasional Inggris telah mengalami kekecewaan besar setelah kalah dari Argentina di semifinal. Salah satu pemain yang menjadi sorotan adalah Declan Rice, gelandang Arsenal yang dikecam oleh legenda Liverpool, Graeme Souness, karena dianggap memiliki keterbatasan dalam permainan.
Souness menyatakan bahwa Rice tidak lebih dari ‘steady Eddie’ dan tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi permainan dengan cara yang signifikan. Ia juga menyatakan bahwa Rice tidak akan menjadi lebih baik lagi karena sudah berusia 27 tahun. Souness membandingkan Rice dengan Rodri, gelandang Manchester City, yang dianggapnya sebagai pemain yang lebih superior.
Declan Rice sendiri telah menjadi pusat perhatian karena beberapa insiden yang terjadi selama Piala Dunia, termasuk ketika ia melakukan gestur yang dianggap tidak sopan kepada Lionel Messi dan pemain Argentina lainnya. Gestur ini bisa dianggap sebagai pelanggaran dan berpotensi mendapatkan kartu merah, tetapi Rice tidak mendapatkan hukuman apa pun.
Sementara itu, pelatih Inggris, Thomas Tuchel, juga menghadapi kritik karena keputusannya untuk tidak memainkan Kobbie Mainoo, gelandang Manchester United, dalam pertandingan melawan Argentina. Mainoo adalah salah satu pemain yang paling berpengaruh dalam skuad Inggris, tetapi ia tidak mendapatkan kesempatan untuk bermain.
Piala Dunia 2026 telah menunjukkan beberapa kejutan dan kontroversi, dan pertandingan antara Inggris dan Argentina adalah salah satu yang paling menarik. Meskipun Inggris telah tersingkir, fans masih dapat menantikan pertandingan final yang akan mempertemukan Argentina dengan Spanyol.
Kesimpulan dari pertandingan ini adalah bahwa Piala Dunia 2026 telah menunjukkan bahwa sepak bola adalah olahraga yang penuh dengan ketidakpastian dan kejutan. Tim-tim yang dianggap kuat dapat kalah, dan pemain-pemain yang dianggap superior dapat melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana tim dan pemain dapat belajar dari kesalahan dan terus meningkatkan diri.
