Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 06 Mei 2026 | Setelah libur Lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu 25 Maret 2026 sempat turun 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62. Namun hanya dalam beberapa menit, indeks berhasil berbalik arah naik 1,05 persen, menembus 7.181,65. Fluktuasi ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh sentimen negatif global dan aksi jual bersih investor asing senilai sekitar Rp791 miliar.
Investor asing menjadi motor penggerak penurunan nilai saham utama seperti BMRI, BBCA, dan ASII. Aksi jual bersih tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa IHSG dapat mengalami koreksi lebih dalam jika tekanan luar tidak berkurang. Dari sudut pandang teknikal, indeks masih berada di zona rawan koreksi, dengan level dukungan kuat di kisaran 6.850‑6.900 dan resistensi di zona 7.000‑7.090.
| Level | Keterangan |
|---|---|
| 6.850‑6.900 | Dukungan kuat, potensi rebound jika tekanan jual berkurang |
| 7.000‑7.090 | Resistensi utama, titik uji ulang tren naik |
Tekanan pada pasar domestik tidak lepas dari gejolak di bursa Amerika Serikat. Pada Senin 4 Mei 2026, Dow Jones turun 1,13 persen, S&P 500 melemah 0,41 persen, dan Nasdaq berkurang 0,19 persen. Penyebab utama penurunan adalah eskalasi ketegangan di Timur Tengah, di mana Uni Emirat Arab berhasil mencegat serangan rudal dari Iran dan Iran mengklaim telah menghalau kapal perang Amerika di wilayah strategis dekat Pulau Jask. Meski pihak militer AS membantah, ketidakpastian geopolitik tetap menekan selera risiko investor global.
Di sisi lain, pasar Asia menunjukkan performa beragam. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 5,12 persen, mencetak rekor baru, sementara Taiex Taiwan naik 4,57 persen dan Hang Seng menguat 1,24 persen. Kinerja positif ini menyoroti perbedaan respons pasar regional terhadap gejolak geopolitik.
Data ekonomi domestik juga memberikan sinyal campuran. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan April 2026 sebesar 0,13 persen (MoM), membawa inflasi tahunan (YTD) ke level 1,06 persen. Transportasi menjadi kontributor utama inflasi dengan kenaikan 0,99 persen. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus signifikan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, menandakan peningkatan ekspor dan penurunan impor.
Berbagai analis memperkirakan bahwa IHSG May masih berada dalam fase volatilitas. BNI Sekuritas menyarankan beberapa saham yang patut dicermati, mengingat fluktuasi harga komoditas energi yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik. Rekomendasi meliputi sektor keuangan, konsumer, dan energi, dengan catatan bahwa investor perlu menjaga likuiditas dan memantau level teknikal secara ketat.
Secara keseluruhan, faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah dan penurunan pasar AS tetap menjadi beban utama bagi IHSG May. Namun, dukungan domestik berupa data inflasi yang terkendali dan surplus neraca perdagangan memberikan landasan fundamental yang relatif kuat. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap aksi jual asing, sekaligus memanfaatkan peluang pada saham-saham dengan fundamental solid yang berada di dekat level support.
