Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 02 Juni 2026 | Pemilihan presiden di Kolombia baru-baru ini telah menarik perhatian dari negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat. Pemilu tersebut diadakan untuk memilih pengganti Presiden Gustavo Petro yang tidak dapat mencalonkan diri kembali karena batasan konstitusi. Sebanyak lebih dari satu dozen kandidat berkompetisi dalam pemilu tersebut, namun tidak satu pun dari mereka yang berhasil mendapatkan 50% suara, sehingga memicu adanya putaran kedua.
Kandidat dari sayap kiri, Iván Cepeda, yang didukung oleh Petro, berhasil mendapatkan 40,9% suara, sementara kandidat dari sayap kanan, Abelardo de la Espriella, mendapatkan sedikit lebih dari 43%. Kedua kandidat tersebut akan bersaing dalam putaran kedua yang akan diadakan bulan depan. De la Espriella dikenal sebagai pengacara yang pernah menjadi penasihat hukum untuk Alex Saab, seorang pengusaha yang terkait dengan mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Pemilu di Kolombia ini berlangsung di tengah-tengah meningkatnya kekerasan yang terkait dengan perdagangan narkoba. Inisiatif ‘Perdamaian Total’ yang diluncurkan oleh Presiden Petro untuk berunding dengan kelompok-kelompok bersenjata dan mendemobilisasi mereka ke dalam struktur formal negara, telah menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Gencatan senjata yang dibuat dengan beberapa faksi pemberontak terbesar telah hampir seluruhnya bubar, dan bahkan ketika gencatan senjata tersebut masih berlaku, organisasi kriminal telah memanfaatkan kesempatan untuk menyerang satu sama lain dalam upaya untuk menguasai lebih banyak wilayah dan sumber daya.
Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, memiliki kepentingan yang signifikan dalam masalah tersebut, terutama dalam upaya melawan perdagangan narkoba di Amerika. Hasil pemilu di Kolombia dapat mempengaruhi hubungan antara kedua negara, tergantung pada siapa yang akan memenangkan putaran kedua. Amerika Serikat mungkin memiliki tuntutan yang tinggi bagi siapa pun yang akan memenangkan pemilu tersebut, terutama dalam hal kerja sama untuk mengatasi masalah narkoba dan keamanan di wilayah tersebut.
Dengan demikian, pemilu di Kolombia ini tidak hanya menentukan masa depan negara tersebut, tetapi juga dapat mempengaruhi dinamika regional dan hubungan antara Kolombia dan Amerika Serikat. Hasil akhir putaran kedua akan sangat menentukan arah kebijakan dan kerja sama antara kedua negara dalam menghadapi tantangan keamanan dan narkoba yang semakin kompleks.
