Perundingan AS-Iran Gagal Total: Iran Tolak Tuntutan Tak Masuk Akal AS setelah 21 Jam Maraton di Islamabad

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 April 2026 | Perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan pada 11-12 April 2026 antara delegasi Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam berlangsung. Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan terkait program nuklir Iran, kontrol Selat Hormuz, dan gencatan senjata dua minggu yang telah berjalan sejak awal April. Namun, perbedaan mendasar dan minimnya kepercayaan mengakibatkan kegagalan total.

Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang menegaskan bahwa Iran menolak “garis merah” Washington, terutama tuntutan penghentian total program nuklir dan larangan pengembangan kemampuan yang dapat mempercepat pembuatan senjata nuklir. Vance menyampaikan bahwa tawaran terakhir dan terbaik telah disampaikan, namun Iran tidak memberi respons positif. Ia menambahkan, “Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi Amerika Serikat.”

Baca juga:

Di sisi Tehran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Amerika Serikat mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal dan melanggar hak sah Iran. Baghaei menekankan bahwa proses diplomatik hanya dapat berhasil bila kedua pihak menunjukkan itikad baik, menahan diri dari tuntutan berlebihan, serta menghormati kepentingan sah Iran. Ia menegaskan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan hanya menggunakan teknologi nuklir untuk kebutuhan sipil, sambil menawarkan pembatasan aktivitas nuklir jika semua sanksi dicabut.

Isu-isu utama yang menjadi penghalang kesepakatan meliputi:

  • Program nuklir: Amerika Serikat menuntut Iran menandatangani komitmen tegas untuk menghentikan semua upaya pengembangan senjata nuklir. Iran menolak permintaan tersebut, mengklaim haknya untuk penggunaan nuklir damai.
  • Selat Hormuz: Kedua pihak bersengketa mengenai kontrol dan biaya transit kapal di Selat Hormuz. Iran menginginkan kontrol lebih besar termasuk biaya transit, sementara AS menuntut pelayaran bebas biaya dan aman.
  • Ganti rugi dan sanksi: Iran menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan AS dan Israel, pencairan aset yang dibekukan, serta penghentian serangan Israel di Lebanon.
  • Gencatan senjata: Kesepakatan gencatan senjata dua minggu masih berlaku, namun tanpa perjanjian damai yang baru, masa berlakunya menjadi tidak pasti.

Pakistani, yang memfasilitasi pertemuan, mengingatkan kedua belah pihak akan pentingnya mematuhi gencatan senjata. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menekankan bahwa kegagalan perundingan tidak boleh memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan. Pakistan berkomitmen terus menjadi mediator dan mengajak kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat yang baru, Donald Trump, mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Trump menulis di akun media sosialnya bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokir setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz, serta membersihkan ranjau di wilayah tersebut. Ancaman ini menambah ketegangan militer di kawasan, meski belum ada konfirmasi resmi tentang implementasinya.

Pemerintah India juga muncul dalam sorotan internasional dengan mempertimbangkan penggunaan buaya dan ular berbisa di perbatasan dengan Bangladesh sebagai alternatif penghalang fisik di daerah rawan banjir. Meskipun tidak terkait langsung dengan perundingan AS-Iran, langkah ini mencerminkan kompleksitas keamanan regional yang semakin rumit.

Ketidakberhasilan perundingan selama 21 jam ini menimbulkan kekhawatiran akan berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah. Para analis menilai bahwa tanpa solusi diplomatik yang komprehensif, risiko eskalasi militer di Selat Hormuz dan potensi konflik lebih luas akan tetap tinggi. Semua pihak diharapkan menjaga jalur komunikasi terbuka dan menghindari tindakan provokatif yang dapat memperburuk situasi.

Secara keseluruhan, kegagalan pertemuan di Islamabad menegaskan kembali tantangan besar dalam mencapai perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara masih berada pada posisi yang saling menuntut, dengan Iran menolak tuntutan yang dianggap tidak masuk akal, sementara AS menegaskan kebutuhan akan jaminan non-proliferasi nuklir. Masa depan gencatan senjata dan stabilitas kawasan kini sangat bergantung pada kemampuan mediator regional untuk memfasilitasi dialog lanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *