Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Washington dan Teheran tampaknya akan kembali menggelar perundingan damai pada akhir pekan ini setelah serangkaian ketegangan militer meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (14/4/2026) menyatakan bahwa putaran kedua pembicaraan dapat dimulai dalam dua hari ke depan, dengan lokasi potensial di Islamabad, Pakistan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan New York Post dan dikonfirmasi secara tidak resmi oleh diplomat yang bekerja lewat jalur rahasia.
Ketegangan antara kedua negara memuncak sejak blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran pada 13 April. Operasi tersebut mencakup penempatan lebih dari sepuluh ribu personel militer serta puluhan kapal perang AS di Selat Hormuz, jalur strategis yang menyuplai hampir seperlima minyak dunia. Iran menanggapi dengan mengancam serangan terhadap kapal-kapal yang melanggar larangan serta menutup sebagian besar lalu lintas pelayaran di selat tersebut, kecuali kapal miliknya sendiri.
Blokade ini menjadi faktor pendorong utama bagi Washington untuk menekan Tehran menuju kesepakatan, sementara Tehran menilai tekanan ekonomi sebagai upaya memaksa mereka menyerah pada tuntutan nuklir Amerika. Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Trump menegaskan bahwa Iran “sangat ingin membuat kesepakatan” dan situasi “sudah sangat dekat untuk berakhir”. Namun, ia juga menegaskan bahwa Amerika tidak akan menyetujui perjanjian yang memungkinkan Iran memiliki senjata nuklir.
Pakistan kembali menjadi perantara utama dalam proses diplomatik ini. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengindikasikan kemungkinan pertemuan kembali di Islamabad setelah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar. Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb menegaskan komitmen negaranya untuk membantu mencapai perdamaian, meskipun belum ada tanggal pasti yang ditetapkan. Sumber senior Iran menyebutkan bahwa delegasi mereka siap berangkat antara Jumat hingga Minggu, dengan harapan dapat menutup perang yang telah berlangsung sejak Februari.
Dalam putaran pertama yang berlangsung pada 11 April, pembicaraan gagal mencapai kesepakatan utama karena perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran. Washington menuntut jeda pengayaan uranium selama 20 tahun, sedangkan Tehran menginginkan jeda lima tahun. Perselisihan ini menjadi penghalang utama hingga kini.
Sementara itu, Rusia menawarkan diri untuk menampung uranium yang telah diperkaya milik Iran sebagai bagian dari paket perdamaian yang lebih luas. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa usulan Presiden Putin untuk menjadi tempat penampungan uranium tetap berlaku, meskipun belum ada respons resmi dari Tehran. Penawaran ini muncul setelah kegagalan perundingan di Islamabad pada 12 April, dan dianggap sebagai langkah untuk meredakan ketegangan di Asia Barat.
Negara-negara regional lainnya juga mengamati perkembangan dengan cermat. Pejabat senior dari Arab Saudi, Mesir, dan Turki berada di Islamabad pada 14 April untuk berkoordinasi dengan Pakistan mengenai langkah mediasi selanjutnya. Di sisi lain, China mengkritik blokade Amerika sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”, memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memperburuk ketegangan dan merusak gencatan senjata yang sudah rapuh.
Jika perundingan berhasil, kemungkinan besar delegasi Amerika akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, mengingat Iran menolak utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menuntut representasi yang lebih kredibel. Kedua belah pihak tampaknya menyiapkan agenda yang mencakup penurunan intensitas militer, peninjauan kembali blokade Selat Hormuz, dan pembahasan skema pengelolaan uranium yang melibatkan Rusia.
Namun, banyak pihak tetap skeptis. Analis militer menilai bahwa blokade Selat Hormuz masih berpotensi memicu insiden maritim, sementara ekonomi Iran yang tengah terpuruk karena hilangnya pendapatan minyak dapat menjadi tekanan tambahan bagi Tehran untuk berkompromi. Di samping itu, dinamika politik domestik di Amerika, terutama mengingat pemilihan presiden yang semakin dekat, dapat memengaruhi keberanian Trump dalam mengambil keputusan diplomatik.
Secara keseluruhan, pertemuan kembali di Islamabad menandai fase krusial dalam upaya mengakhiri konflik yang telah melibatkan lebih dari satu ratus ribu nyawa dan mengganggu alur perdagangan energi global. Keberhasilan atau kegagalan perundingan ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah serta memengaruhi stabilitas ekonomi dunia dalam jangka panjang.
