Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Rabu, 8 April 2026, sebuah konvoi pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) yang dioperasikan oleh Italia mengalami tembakan peringatan dari militer Israel (IDF) di wilayah Garis Biru antara Ras Naqoura dan Labounieh, Lebanon selatan. Kendaraan yang membawa personel Italia mengalami kerusakan ringan, namun beruntung tidak ada korban luka. Insiden ini memicu respons diplomatik cepat dari Roma, yang pada hari yang sama memanggil Duta Besar Israel untuk memberikan klarifikasi.
Menlu Italia, Antonio Tajani, melalui unggahan resmi di platform X, menyatakan bahwa ia baru saja menginstruksikan duta besar Israel untuk Italia dipanggil ke Kementerian Luar Negeri. Tajani menegaskan bahwa “militer Italia tidak akan disentuh” dan menuntut penjelasan atas peristiwa yang terjadi. “Tembakan peringatan Israel merusak salah satu kendaraan kami, tetapi konvoi harus kembali ke pangkalan,” kata Tajani, menambahkan bahwa konvoi tersebut sedang mengangkut personel menuju Beirut untuk proses repatriasi.
Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, dalam konferensi pers, menggambarkan insiden sebagai “tidak dapat diterima” mengingat mandat pasukan Italia di bawah bendera PBB. Crosetto menambahkan bahwa konvoi sedang dalam perjalanan dari kota Shama ke Beirut ketika diserang, dan meskipun tidak ada luka, satu atau beberapa kendaraan mengalami kerusakan ringan. Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang beroperasi di zona sensitif.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengecam keras aksi Israel dan menyerukan penghentian serangan di Lebanon. “Serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon, yang telah menimbulkan terlalu banyak korban jiwa dan jumlah pengungsi yang tidak dapat diterima, harus segera dihentikan,” ujar Meloni, mengutip pernyataan AFP. Ia menegaskan dukungan Italia kepada PBB dan menolak segala bentuk ancaman terhadap personel Italia.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi militer terbesar Israel di Lebanon sejak perang kembali berlanjut pada pertengahan Maret 2026. Menurut laporan media, sekitar 150 pesawat Israel terlibat dalam operasi udara yang menargetkan posisi Hizbullah di seluruh Lebanon, menewaskan setidaknya 254 warga sipil. Operasi tersebut diklaim Israel sebagai serangan terkoordinasi terbesar sejak konflik dengan Iran memuncak.
UNIFIL sendiri dibentuk pada tahun 1978 dengan mandat menjaga stabilitas di Lebanon selatan. Pada akhir Maret 2026, misi tersebut mencatat kehadiran 754 personel Italia, menjadikan Italia kontributor terbesar kedua setelah Indonesia yang menempatkan 755 personel. Kendaraan berwarna biru dengan lambang PBB menjadi simbol kehadiran internasional yang kini berada di bawah tekanan intensif.
Israel berpendapat bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Tehran dan Washington, sehingga mereka menganggap tindakan militer sah untuk menetralkan ancaman Hizbullah. Namun, pemerintah Italia menolak interpretasi tersebut, menegaskan bahwa konvoi UNIFIL jelas dapat dikenali sebagai kendaraan misi perdamaian dan tidak boleh menjadi target.
Reaksi internasional terhadap insiden ini beragam. Beberapa negara anggota Uni Eropa mengkritik tindakan Israel dan menyerukan dialog, sementara Amerika Serikat menekankan pentingnya keamanan Israel. Sementara itu, PBB belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pelanggaran terhadap konvoi UNIFIL, namun menegaskan komitmen untuk melindungi personel perdamaian.
Ke depan, Italia berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan komandan UNIFIL serta menuntut jaminan keamanan bagi pasukannya. Pemerintah Roma juga menyatakan kesiapan untuk meninjau kembali kontribusi militernya di Lebanon jika situasi tidak membaik.
Insiden ini menambah daftar peristiwa berbahaya yang menimpa pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik, dan menyoroti ketegangan yang terus meningkat antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon. Pemerintah Italia, melalui langkah diplomatiknya, berupaya menegaskan hak dan perlindungan pasukannya sambil menunggu klarifikasi resmi dari Kedutaan Israel.
