Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 Juli 2026 | Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah serangan udara dan pertempuran laut di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Menurut laporan, AS telah menyerang lebih dari 140 target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, situs radar, kemampuan rudal dan drone, serta kapal kecil. Sementara itu, Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS dan fasilitas di Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Yordania.
Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, menjadi titik fokus konflik ini. AS dan Iran mengeluarkan klaim yang bertentangan tentang status jalur pelayaran ini. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, sementara Iran mengatakan bahwa lalu lintas maritim tidak akan diizinkan sampai kestabilan dan ketenangan dipulihkan.
Dalam perkembangan terbaru, harga minyak melonjak lebih dari 4% setelah serangan militer AS-Iran memperburuk kekhawatiran tentang pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Departemen Kehakiman AS sedang menyelidiki tuduhan terhadap Presiden Serikat Pekerja Otomotif (UAW) Shawn Fain, yang dituduh melakukan tindakan yang tidak pantas untuk kepentingan pribadi.
Konflik AS-Iran ini telah menyebabkan kekhawatiran di seluruh dunia tentang dampaknya terhadap kestabilan regional dan global. Pertempuran di Selat Hormuz dapat memicu krisis energi dan memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah.
