Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Pasar energi global kembali berada di ujung tanduk pada Senin, 20 April 2026, setelah harga minyak dunia melesat lebih dari lima persen. Lonjakan tersebut dipicu oleh penangkapan sebuah kapal kargo milik Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan Teluk Oman, yang kemudian memicu penutupan sementara Selat Hormuz, jalur penyedia sekitar dua puluh persen suplai minyak dunia.
Data perdagangan menunjukkan minyak mentah Brent naik 6,11 dolar AS atau 6,76 persen, menembus level $96,49 per barel pada pukul 23.27 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan 6,53 dolar AS atau 7,79 persen, berakhir di $90,38 per barel. Kenaikan ini menandai putaran balik tajam setelah penurunan 9 persen pada akhir pekan sebelumnya.
Kondisi geopolitik menjadi faktor utama. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa kapal kargo Iran berusaha menembus blokade laut AS, sehingga pasukan Marinir mengambil alih kapal tersebut. Iran menolak kembali ke meja perundingan damai dan menutup kembali Selat Hormuz, menambah ketidakpastian pasokan. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata, memperparah ketegangan yang sudah berlangsung hampir dua bulan.
Ahli pasar energi, Saul Kavonic dari MST Marquee, menilai bahwa volatilitas harga dipengaruhi tidak hanya oleh aksi militer, melainkan juga oleh sentimen media sosial pemerintah kedua negara. “Pernyataan di media sosial sering kali menggantikan realitas lapangan, sehingga pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam menilai keamanan jalur pengiriman,” ujar Kavonic. Ia menambahkan bahwa meski ada klaim kesepakatan antara AS dan Iran, kepercayaan para pemilik kapal masih rendah.
Data Kpler mencatat puncak lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Sabtu, dengan lebih dari dua puluh kapal melintasi jalur tersebut, membawa minyak, LPG, logam, dan pupuk. Rekor tersebut menandai intensitas tertinggi sejak 1 Maret 2026, menunjukkan pentingnya jalur tersebut bagi perdagangan global meski berada dalam bayang‑bayang konflik.
Di sisi lain, Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING, menekankan bahwa pasar minyak kembali diguncang oleh perkembangan Timur Tengah. “Ketegangan militer di Selat Hormuz selalu menjadi katalis utama bagi lonjakan harga, karena pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan yang signifikan,” jelasnya.
Para analis memperkirakan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlanjut lebih dari satu minggu, harga minyak dapat menembus level $100 per barel, menambah tekanan pada ekonomi negara‑negara importir energi. Pemerintah Indonesia, yang masih sangat tergantung pada impor minyak, telah menyiapkan kebijakan subsidi dan penyesuaian tarif untuk menahan dampak inflasi energi.
Secara keseluruhan, situasi saat ini menegaskan kembali betapa rapuhnya rantai pasokan energi global terhadap dinamika geopolitik. Meskipun ada upaya diplomatik, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan militer masih menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam minggu‑minggu mendatang.
