Culik Aktivis Israel: 173 Aktivis Dikirim ke Yunani, Dua Relawan Indonesia Selamat

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 02 Mei 2026 | Pasukan militer Israel melakukan pencegatan dan sabotase terhadap armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional Laut Mediterania. Insiden terjadi sekitar 965 kilometer dari wilayah Israel, tepatnya di dekat Pulau Kreta, Yunani, pada akhir April 2026. Aksi tersebut menimbulkan tuduhan penculikan warga sipil, atau yang kini dikenal luas sebagai culik aktivis Israel, dan memicu respons diplomatik dari sejumlah negara.

Menurut pernyataan perwakilan Steering Committee Global Sumud Flotilla dari Indonesia, Maimon Herawati, sebanyak 173 aktivis yang sempat diculik berhasil tiba di perairan Yunani pada Jumat, 1 Mei 2026. Pemerintah Yunani telah menyetujui penerimaan para aktivis tersebut dan sedang berkoordinasi dengan kedutaan masing-masing negara asal untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan deportasi atau penempatan sementara.

Baca juga:

Namun, dua tokoh utama—Thiago Avila dari Brazil dan Saif Abu Keshek dari Palestina—tidak dibawa ke Yunani. Kedua aktivis ini dilaporkan dipindahkan secara paksa ke pelabuhan Ashdod, Israel, dan kini berada di bawah pengawasan otoritas Israel. Komite pengarah lainnya terus memantau kondisi mereka.

Insiden ini juga mengakibatkan kerusakan signifikan pada armada. Sebanyak 22 kapal mengalami kerusakan berat, termasuk kapal induk Safsaf yang harus ditarik ke pelabuhan Yunani karena mesin yang rusak parah. Sebelas kapal lainnya ditemukan dalam keadaan kosong dan terombang-ambing setelah disabotase.

Selain itu, 36 kapal masih berada di pelabuhan sekitar Kreta karena terhambat cuaca buruk. Badai yang diperkirakan berlangsung hingga dua hari ke depan menunda upaya lanjutan flotilla untuk menembus blokade Israel dan mengirim bantuan ke Gaza.

Berbagai negara Eropa menanggapi kejadian ini dengan langkah diplomatik. Italia, Spanyol, dan Swedia mengirimkan pernyataan resmi untuk melindungi warganya yang menjadi bagian dari 175 aktivis yang ditahan di laut. Komisi Eropa menegaskan pentingnya kebebasan navigasi internasional, meskipun tidak mengeluarkan kecaman langsung terhadap Israel.

Turki mengutuk operasi tersebut sebagai “pembajakan” dan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menghubungi rekan-rekannya di Spanyol untuk membahas situasi. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel berargumen bahwa penyitaan dilakukan untuk menjaga blokade maritim dan mencegah penyelundupan, mengklaim menemukan obat-obatan kecil serta alat kontrasepsi di beberapa kapal.

Para aktivis yang masih berada di laut, seperti Tariq Ra’ouf, melaporkan gangguan komunikasi sebelum armada dipaksa berhenti. Mereka menuding adanya penggunaan kapal cepat dan drone oleh Angkatan Laut Israel untuk mengeksekusi operasi tersebut.

Tim legal Global Sumud Flotilla menyatakan akan menempuh jalur hukum internasional atas tindakan yang mereka sebut sebagai penculikan. Mereka menekankan bahwa operasi ini terjadi lebih dari 600 mil dari Gaza, jauh di luar zona konflik, sehingga melanggar hukum laut internasional.

Di Yunani, protes muncul di Athena menuntut klarifikasi dari penjaga pantai Yunani yang dianggap tidak bertindak saat penyitaan terjadi di zona pencarian dan penyelamatan maritim. Aktivis menegaskan bahwa intimidasi ini tidak akan menghentikan komitmen mereka untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.

Dengan dua relawan Indonesia yang berhasil kembali ke tanah air, kasus ini menambah tekanan pada Israel untuk meninjau kembali kebijakan blokade lautnya. Sementara itu, dunia menunggu keputusan akhir mengenai nasib para aktivis yang masih ditahan, termasuk langkah hukum yang akan diambil oleh komite pengarah Global Sumud Flotilla.

Ke depan, komunitas internasional diperkirakan akan terus memantau situasi, mengingat implikasi geopolitik yang luas dan dampak kemanusiaan yang signifikan. Upaya diplomatik antara Yunani, Israel, serta negara‑negara asal aktivis akan menjadi kunci dalam menentukan penyelesaian yang dapat mengembalikan stabilitas di wilayah Mediterania dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat mencapai Gaza tanpa hambatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *