Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Pada Senin 13 April 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pelaksanaan operasi blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran. Penetapan ini berlaku mulai pukul 10.00 waktu Amerika Timur (ET) atau pukul 21.00 WIB, dengan tujuan utama menutup akses laut Iran ke Selat Hormuz dan memaksa Tehran membuka jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia serta Laut Oman.
Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah tersebut setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. Dalam sebuah unggahan di platform media sosial resmi, Trump menegaskan bahwa setiap kapal yang membayar pungutan ilegal kepada Iran tidak akan mendapatkan jalur aman di perairan internasional. Ia menambahkan bahwa Angkatan Laut AS telah diberi perintah untuk mencari, mencegat, dan menahan kapal-kapal yang melanggar larangan tersebut, sekaligus membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz demi menjamin keamanan kapal sekutu.
Operasi blokade mencakup semua pelabuhan Iran, termasuk fasilitas energi penting di Teluk Persia dan Teluk Oman. Namun, kapal yang mengangkut kebutuhan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas, dengan syarat melewati proses pemeriksaan ketat. CENTCOM menegaskan bahwa prosedur ini bertujuan mencegah penyelundupan bahan-bahan yang dapat memperkuat program nuklir atau militer Iran.
Secara militer, Amerika Serikat menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln di perairan timur Teluk Oman, sekitar 200 kilometer selatan wilayah Iran, sejak 11 April 2026. Dua kapal perusak dilengkapi dengan rudal kendali juga dikerahkan untuk mendukung operasi. Penempatan ini menandakan kesiapan tinggi pasukan AS untuk menghadapi kemungkinan eskalasi di Selat Hormuz.
Reaksi Tehran tidak kalah tegas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran berada selangkah lagi dari kesepakatan damai, namun tindakan blokade dianggap sebagai langkah “maksimalis” yang terus mengubah tuntutan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyindir kebijakan AS dengan menyoroti kemungkinan kenaikan harga bensin hingga 4–5 dolar AS per galon jika blokade terus berlanjut. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah di bawah ancaman.
Angkatan Laut Iran menanggapi peringatan Trump dengan mengumumkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dihadapi dengan tindakan keras. Video yang dirilis Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperlihatkan kapal perusak AS mundur setelah menerima peringatan dari angkatan laut Tehran, menambah ketegangan di wilayah yang sudah rapuh.
Selain dimensi militer, blokade ini menimbulkan implikasi ekonomi global. Harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan setelah pengumuman AS, mencerminkan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi. Negara-negara pengekspor minyak, khususnya di Timur Tengah, menghadapi tekanan untuk memastikan jalur pengiriman tetap terbuka, sementara konsumen di seluruh dunia mengantisipasi kenaikan tarif energi.
Berikut rangkuman poin penting operasi blokade:
- Pelaksanaan: 13 April 2026, pukul 21.00 WIB.
- Target: Semua pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Laut Oman.
- Pengecualian: Kapal pengangkut makanan dan obat-obatan setelah pemeriksaan.
- Penempatan militer AS: Kapal induk USS Abraham Lincoln dan dua kapal perusak.
- Reaksi Iran: Ancaman serangan ke pelabuhan negara sekutu, peringatan keras terhadap kapal militer asing.
- Dampak ekonomi: Kenaikan harga minyak dunia dan potensi gangguan pasokan energi.
Ketegangan ini menambah daftar konflik yang dapat memicu eskalasi militer di kawasan Teluk. Meskipun Amerika Serikat menyatakan masih terbuka untuk dialog, pernyataan tegas Trump mengenai kesiapan melanjutkan serangan pada “waktu yang tepat” menandakan bahwa jalan diplomatik masih rapuh. Sementara itu, Iran terus menegaskan kemampuannya mempertahankan kepentingan strategis di Selat Hormuz, menjadikan wilayah tersebut sebagai arena utama persaingan geopolitik antara dua kekuatan besar.
Dalam beberapa minggu ke depan, dunia akan memantau perkembangan negosiasi kembali, pergerakan armada militer, serta fluktuasi harga energi. Keputusan AS untuk melanjutkan atau menghentikan blokade akan sangat menentukan arah hubungan Amerika‑Iran serta stabilitas ekonomi global.
