Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Sejak serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, sebanyak 140 situs bersejarah di 20 provinsi Iran dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Kerusakan ini tidak hanya menelan kerugian ekonomi yang sangat besar, tetapi juga menimbulkan dampak budaya yang mendalam bagi warisan peradaban Persia.
Data awal yang dikumpulkan oleh Kantor Berita Nasional Iran (IRNA) dan dikonfirmasi oleh media internasional mencatat total kerugian finansial sekitar 7,5 triliun tomans, setara dengan Rp3 triliun atau USD49 juta (sekitar Rp837,4 miliar). Angka tersebut masih bersifat provisional dan diperkirakan akan meningkat seiring proses evaluasi lanjutan.
Provinsi dengan jumlah situs terbanyak yang rusak adalah ibu kota Tehran, dengan 63 situs mengalami kerusakan parah. Di urutan berikutnya, Isfahan mencatat 23 situs yang terdampak, sementara Golestan mencatat 12 situs. Situs-situs yang termasuk dalam daftar warisan dunia, seperti Kompleks Sa’dabad dan Istana Qajar, mengalami kerusakan struktural yang memerlukan restorasi intensif.
- Tehran: 63 situs
- Isfahan: 23 situs
- Golestan: 12 situs
Selain kerusakan budaya, konflik juga menghancurkan alutsista militer Iran. Sekitar 160–190 mesin peluncur rudal balistik dilaporkan tidak berfungsi akibat serangan udara. Kerugian total dalam sektor pertahanan diperkirakan mencapai USD145 miliar atau Rp2,4 kuadriliun.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada saat itu masih menjabat, mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada 7 April 2026. Kesepakatan tersebut disambut positif oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menilai gencatan ini dapat meredakan ketegangan regional. Negosiasi damai selanjutnya digelar di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam, namun belum menghasilkan perjanjian permanen.
Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa kegagalan mencapai kesepakatan damai merupakan “kabar buruk bagi Iran lebih besar daripada bagi Amerika Serikat”. Sumber internal pemerintah Pakistan menyatakan proses diplomatik akan dilanjutkan, menandakan bahwa mediasi regional masih berlanjut.
Kerusakan pada situs budaya menimbulkan keprihatinan internasional. Para ahli konservasi menilai bahwa pemulihan lengkap dapat memakan waktu bertahun‑tahun dan memerlukan dana tambahan dari lembaga donor. Menurut Menteri Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, Reza Salehi Amiri, evaluasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan bersifat struktural, termasuk dinding batu, atap ubin, dan elemen dekoratif yang hilang.
Berikut rangkuman kerusakan per provinsi yang teridentifikasi hingga saat ini:
| Provinsi | Jumlah Situs Rusak | Contoh Situs |
|---|---|---|
| Tehran | 63 | Kompleks Sa’dabad, Istana Qajar |
| Isfahan | 23 | Masjid Shah, Benteng Golpayegan |
| Golestan | 12 | Benteng Gonbad-e Qabus |
Serangan ini juga mempengaruhi jalur perdagangan internasional. Iran sempat menutup sebagian perairan Selat Hormuz, memicu kekhawatiran atas pasokan minyak global. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, ketegangan tetap tinggi dan pihak‑pihak terkait terus memantau situasi demi menghindari eskalasi lebih lanjut.
Secara keseluruhan, kerusakan pada 140 situs bersejarah menandai salah satu dampak budaya terburuk dalam konflik modern di Timur Tengah. Upaya pemulihan akan memerlukan koordinasi lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga internasional, dan komunitas akademik. Sementara proses perdamaian masih berada di tahap awal, harapan akan rekonstruksi budaya dan ekonomi tetap menjadi fokus utama bagi rakyat Iran dan dunia internasional.
