Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Setelah menelan kekalahan tipis 1-2 di tangan Thailand pada final Piala AFF Futsal 2026 di Nonthaburi Hall, Thailand, pelatih asal Spanyol, Hector Souto, tidak menutup mulut. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin (13/4/2026), ia mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan wasit yang ia nilai terlalu berat terhadap tim Garuda. “Kami terlalu dihukum, beberapa keputusan penting tidak berpihak kepada kami,” ujar Souto dengan nada tegas.
Meski demikian, pelatih tetap menegaskan kepuasannya terhadap perjalanan tim yang berhasil melaju hingga final dengan skuad yang sebagian besar merupakan pemain muda. “Kami datang dengan lapisan kedua, banyak pemain yang baru berpengalaman internasional, namun mereka mampu melesat ke partai puncak. Itu pencapaian yang patut dibanggakan,” katanya.
Souto menambahkan bahwa kekalahan tersebut tidak menghentikan visinya untuk mengembangkan futsal Indonesia. Ia mengungkapkan dua fokus utama yang akan dijalankan dalam tiga bulan ke depan:
- Memonitor performa pemain senior di Pro Futsal League (PFL) yang semakin kompetitif, terutama mengingat pemenang liga akan mewakili Indonesia di Piala Intercontinental Futsal 2026 di Brasil.
- Menemukan dan mengasah talenta pemain U17 di seluruh pelosok negeri, termasuk daerah terpencil, untuk membangun fondasi kuat bagi masa depan futsal nasional.
Menurut Souta, saat ini sudah lebih dari 14 pemain Indonesia yang berkompetisi di turnamen internasional dengan level yang baik. “Itu adalah hal terpenting. Kami harus terus menambah kualitas pemain dan memberikan mereka eksposur yang tepat,” ujarnya.
Selain fokus teknis, Hector Souto juga menyoroti mimpi besarnya untuk kesejahteraan pemain futsal. Ia berharap agar atlet futsal di Indonesia dapat menikmati gaji layak dan diperlakukan sebagai profesional sejati. “Saya ingin futsal menjadi profesi yang serius, di mana pemain dapat belajar dan berkarir sekaligus mendapatkan kondisi hidup yang baik,” tegasnya. Harapan ini sejalan dengan upaya Federasi Futsal Indonesia (FFI) dalam memperkuat ekosistem futsal melalui kompetisi dua divisi, yang memungkinkan deteksi bakat secara natural dari liga.
Dalam upaya menyiapkan generasi penerus, Souto menyatakan bahwa tim pelatih dan staf akan melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk mengamati pemain muda. “Kami tidak hanya menatap kota besar, tapi juga desa-desa terpencil. Potensi ada di mana saja,” kata ia. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara klub, liga, dan federasi untuk menciptakan jalur karier yang jelas bagi pemain futsal.
Tak kalah penting, pelatih menegaskan bahwa tim nasional tidak akan mengambil libur panjang setelah turnamen. Pemain akan kembali ke klub masing-masing untuk melanjutkan kompetisi di PFL 2026, sementara Souto akan terus memantau performa mereka. “Kami harus memastikan bahwa setiap pemain berada dalam kondisi terbaik, baik secara fisik maupun mental, menjelang kompetisi internasional berikutnya,” paparannya.
Meski kecewa dengan hasil final, Souto optimis bahwa pengalaman ini akan menjadi batu loncatan. Ia mengajak seluruh elemen futsal Indonesia—pemain, pelatih, pengurus, dan suporter—untuk bersatu membangun masa depan yang lebih cerah. “Kita harus belajar dari setiap keputusan yang kurang menguntungkan dan memperbaiki diri. Dengan kerja keras dan dukungan semua pihak, Indonesia bisa kembali menjadi juara di tingkat regional dan bahkan dunia,” pungkasnya.
