Kampus Diminta Bangun Dapur MBG: Peluang Besar, Biaya Rp 2 Miliar, dan Jejak Unhas sebagai Pelopor

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Mei 2026 | Dalam rangka memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi agenda strategis nasional, Badan Gizi Nasional (BGN) menaruh harapan besar pada perguruan tinggi. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa kampus tidak sekadar menjadi tempat belajar, melainkan harus berperan aktif membangun dapur MBG, atau yang secara resmi disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pernyataan Dadan disampaikan pada Forum U25 PTN-BH yang digelar di Makassar pada Selasa, 28 April 2026. Dalam forum tersebut, 24 rektor perguruan tinggi negeri hadir, dan Dadan menekankan bahwa setiap kampus sebaiknya memiliki minimal satu SPPG. “Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujarnya.

Baca juga:

Dimensi Operasional Dapur MBG

Menurut data yang diungkapkan, satu SPPG memerlukan sumber daya alam yang signifikan. Untuk memenuhi kebutuhan beras, diperlukan lahan sawah seluas sekitar delapan hektare. Untuk pakan ternak, lahan jagung seluas sembilan belas hektare dibutuhkan. Selain itu, produksi protein hewani mengandalkan sekitar empat ribu ekor ayam petelur, dengan kisaran tiga ribu tujuh ratus hingga empat ribu ekor untuk satu dapur.

  • 8 ha lahan sawah untuk beras
  • 19 ha lahan jagung untuk pakan ternak
  • 3.700‑4.000 ekor ayam petelur

Kompleksitas ini membuka peluang bagi fakultas pertanian, peternakan, dan ilmu pangan untuk terlibat langsung dalam manajemen produksi, pengolahan, hingga distribusi. Mahasiswa dapat menjalani pembelajaran berbasis proyek (project‑based learning) yang mengintegrasikan teori dengan praktik lapangan, sekaligus menghasilkan riset terapan yang dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok MBG.

Unhas: Contoh Nyata dengan Investasi Besar

Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar menjadi kampus pertama di Indonesia yang berhasil mengoperasikan SPPG. Pada tahun 2026, Unhas mengungkapkan biaya pembangunan dapur MBG mencapai dua miliar rupiah. Investasi tersebut mencakup pembangunan infrastruktur dapur, penyediaan lahan pertanian, serta fasilitas peternakan yang lengkap.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menjelaskan bahwa keberadaan SPPG di kampus tidak hanya bertujuan memberi makan mahasiswa dan staf, tetapi juga sebagai pusat inovasi gizi bagi masyarakat sekitar. Sejak didirikan, Unhas telah melibatkan lebih dari seratus mahasiswa dalam program magang, penelitian, dan layanan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas gizi.

Sejarah dan Visi Unhas dalam Pengelolaan Dapur MBG

Unhas memiliki akar sejarah yang panjang sejak masa pendirian Fakultas Ekonomi pada 1947, yang kemudian berkembang menjadi universitas mandiri pada 1956. Visi institusi menekankan peran sebagai pusat unggulan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang berbasis pada konsep Benua Maritim Indonesia. Misi tersebut selaras dengan tujuan BGN untuk menjadikan SPPG sebagai laboratorium hidup bagi inovasi gizi.

Nilai-nilai yang dipegang Unhas, antara lain integritas, inovasi, katalik, dan arif, menjadi landasan bagi pengembangan dapur MBG. Dengan mengintegrasikan nilai‑nilai tersebut, Unhas berhasil menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan, dimana petani, peternak, dan UMKM menjadi mitra utama dalam penyediaan bahan baku.

Peluang Ekonomi dan Penelitian

SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, melainkan juga sebagai offtaker utama produk pertanian dan peternakan lokal. Hal ini meningkatkan daya beli petani dan peternak, serta memacu adopsi teknologi pertanian modern seperti irigasi pintar, pupuk organik, dan sistem manajemen ternak berbasis data.

Di sisi akademik, laboratorium gizi ini membuka ruang bagi penelitian multidisiplin. Fakultas pertanian dapat menguji varietas padi atau jagung yang lebih tahan penyakit, sementara fakultas kedokteran gizi dapat mengevaluasi dampak konsumsi makanan bergizi terhadap status kesehatan mahasiswa. Hasil riset dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, memperkuat reputasi kampus di kancah internasional.

Langkah Selanjutnya bagi Kampus Lain

Menanggapi seruan Dadan Hindayana, sejumlah kampus di luar Sulawesi Selatan telah menyatakan minat untuk mengimplementasikan SPPG. Tantangan utama yang dihadapi meliputi penyediaan lahan, pendanaan awal, serta koordinasi dengan stakeholder eksternal. Pemerintah melalui BGN menawarkan skema hibah dan bantuan teknis untuk mempermudah proses pembangunan.

Dengan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen akademik, dapur MBG dapat menjadi model keberlanjutan gizi nasional. Integrasi antara pendidikan, produksi, dan distribusi tidak hanya menjawab kebutuhan gizi, tetapi juga menumbuhkan ekosistem ekonomi yang inklusif.

Kesimpulannya, pengembangan dapur MBG di perguruan tinggi bukan sekadar proyek sosial, melainkan investasi strategis dalam kesehatan masyarakat, riset inovatif, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Unhas telah menunjukkan jalan dengan investasi Rp 2 miliar, dan kini saatnya kampus lain mengikuti jejak tersebut untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bergizi dan mandiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *