Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Seorang ibu di Gresik, Jawa Timur, tak menyembunyikan rasa bahagianya ketika putra tunggalnya, Raihan Al Zaky, dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, di balik sorotan kebanggaan itu, kekhawatiran tentang kemampuan membiayai kuliah tetap menghantui hati sang ibu. Situasi serupa juga dirasakan oleh orang tua Kasiati, mahasiswi termuda yang berhasil menembus SNBP Unesa pada usia 15 tahun, namun harus mengandalkan ayah tunggalnya untuk menutupi biaya pendidikan.
Raihan lahir di Desa Padang Bandung, Dukun, Gresik, dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani, sementara ibunya berperan sebagai ibu rumah tangga. Meskipun kondisi ekonomi tidak menguntungkan, kedua orang tua menanamkan nilai kesabaran, ketelatenan, dan keutamaan ibadah sejak kecil. “Saya sangat bersyukur Allah senantiasa membantu saya,” ujar Raihan, menambahkan bahwa proses persiapan SNBP dimulai sejak kelas 10 dengan strategi belajar yang terstruktur: adaptasi, pencatatan materi rapi, disiplin mengerjakan tugas, hingga aktif mengikuti lomba dan konsultasi dengan guru career planning.
Di sisi lain, cerita Kasiati, siswi asal Bima, NTB, menunjukkan tantangan yang berbeda. Ia kehilangan sang ibu sejak usia dini dan kini hanya mengandalkan ayah yang bekerja di sawah. Meskipun begitu, Kasiati berhasil masuk Unesa pada program S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) lewat jalur SNBP. “Saya tidak pernah mengikuti program akselerasi, yang penting konsistensi belajar,” katanya. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan nilai rapor, sertifikat, serta persiapan sejak kelas satu.
Para ibu tersebut menyuarakan dua perasaan yang hampir serupa: kebanggaan luar biasa atas prestasi anak, dan kecemasan mengenai biaya kuliah. “Saya bangga karena anak saya berhasil menembus perguruan tinggi ternama, namun saya takut tidak mampu menutupi biaya kuliah, terutama uang semester dan biaya hidup di kota besar,” ujar ibu Raihan dengan nada lirih.
Untuk mengatasi beban finansial, banyak keluarga memanfaatkan beasiswa yang ditawarkan lewat program SNBP itu sendiri. Pemerintah menyediakan beasiswa penuh atau parsial bagi peserta yang lolos dengan prestasi akademik dan non-akademik tinggi. Selain itu, perguruan tinggi seperti ITB dan Unesa memiliki skema beasiswa internal, bantuan dana mahasiswa kurang mampu, serta kerja sama dengan lembaga donor. Namun, proses pengajuan beasiswa seringkali memerlukan dokumen lengkap, surat pernyataan ekonomi, serta bukti prestasi yang harus disiapkan secara teliti.
Berikut beberapa langkah yang dapat diambil oleh orang tua dalam menghadapi tantangan biaya kuliah setelah anak lolos SNBP:
- Segera mengajukan beasiswa SNBP: Pastikan semua dokumen, termasuk slip gaji orang tua, Kartu Keluarga, dan sertifikat prestasi, sudah lengkap sebelum batas waktu pendaftaran.
- Menghubungi unit bantuan keuangan kampus: Banyak universitas memiliki kantor khusus yang membantu mahasiswa kurang mampu dalam mengakses beasiswa, cicilan, atau kerja paruh waktu.
- Menyiapkan rencana keuangan jangka panjang: Buat anggaran bulanan yang mencakup biaya kuliah, akomodasi, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari.
- Memanfaatkan program pemerintah daerah: Beberapa provinsi menyediakan bantuan pendidikan bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
- Mencari pekerjaan paruh waktu atau magang: Banyak kampus menawarkan peluang kerja di laboratorium, perpustakaan, atau unit layanan kampus yang dapat menambah pendapatan.
Selain dukungan finansial, peran emosional orang tua tetap krusial. Ibu Raihan mengakui bahwa doa, motivasi, dan bimbingan spiritual menjadi penopang utama dalam perjuangan putranya. “Kami selalu mengingatkan dia untuk tetap bersyukur dan terus berdoa,” ujarnya. Sementara itu, ayah Kasiati menjadi satu-satunya sumber semangat bagi putrinya, menegaskan pentingnya dukungan moral dalam menghadapi tekanan akademik.
Keberhasilan kedua anak ini tidak lepas dari kerja keras, kebijakan belajar yang sistematis, serta dukungan lingkungan sekitar. Namun, tantangan biaya kuliah tetap menjadi realitas yang harus dihadapi setiap keluarga. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta diharapkan dapat memperluas skema beasiswa dan memberikan kemudahan akses bagi calon mahasiswa berprestasi yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu.
Dengan sinergi antara kebijakan publik, komitmen universitas, dan dukungan keluarga, harapan agar prestasi tidak terhalang oleh faktor ekonomi dapat terwujud. Cerita Raihan dan Kasiati menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat dicapai, asalkan ada tekad, persiapan matang, serta jaringan dukungan yang solid.
