Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 12 Mei 2026 | Insiden keracunan makanan menimpa ratusan siswa di Surabaya, Jawa Timur, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pemerintah. Kasus ini terjadi setelah para siswa mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh.
Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menganggap kasus ini sebagai alarm serius bagi pelaksanaan MBG. Ia menekankan bahwa MBG tetap harus berjalan, tetapi pengawasan dan standar higienitas makanan harus dilakukan evaluasi.
Menurut Syaifuddin, keamanan pangan tidak hanya dilihat dari kondisi fisik makanan saja, namun juga harus memenuhi standar higienitas, kandungan bahan makanan, hingga proses pengolahan dan distribusi. Ia mendorong agar kasus serupa tidak terjadi lagi ke depannya, agar tidak menimbulkan traumatik siswa maupun orang tua murid.
Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah berjanji untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait insiden keracunan massal ratusan siswa. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyayangkan insiden yang terjadi dan berjanji untuk melakukan evaluasi agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Insiden keracunan makanan ini telah menimpa sekitar 200 siswa dari 12 sekolah di wilayah Tembok Dukuh, Surabaya. Para siswa mengalami gejala keracunan seperti pusing, mual, hingga muntah setelah mengonsumsi MBG. Pihak sekolah dan puskesmas telah menangani para siswa yang terkena dampak, dan sebagian besar kondisi siswa masih tergolong ringan.
Sampel porsi MBG telah dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) untuk diteliti secara mendalam. Pihak terkait masih melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti keracunan makanan.
Kesimpulan, insiden keracunan makanan di Surabaya telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pemerintah. Evaluasi standar higienitas makanan dan pengawasan MBG harus dilakukan untuk mencegah kasus serupa terjadi lagi di masa depan.
