Saling Tampar di Lokasi Syuting ‘The Bell’: Givina Lukita Ungkap Momen Mengejutkan

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Jakarta Selatan, 27 April 2026 – Pada hari Senin, aktor Givina Lukita mengungkapkan sebuah pengalaman tak terduga saat proses produksi film horor The Bell: Panggilan Untuk Mati. Adegan yang direncanakan sebagai ‘baku hantam tipis-tipis’ antara karakternya, Saidah, dan Ratu Sofya yang memerankan Airin, berakhir dengan tamparan nyata yang membuat kedua pemain terkejut.

Film The Bell mengisahkan legenda lonceng keramat di Pulau Belitung yang dapat mengurung roh‑roh jahat. Sekelompok YouTuber yang mencuri lonceng tersebut tanpa sengaja membebaskan Penebok, sosok hantu tanpa kepala yang menebar teror di desa. Givina Lukita berperan sebagai Saidah, seorang perempuan kuat yang terjebak dalam konflik supernatural, sementara Ratu Sofya berperan sebagai Airin, saudara perempuan yang ambisius.

Baca juga:

Menurut keterangan Givina dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta, sebelum pengambilan gambar adegan tampar mereka telah membuat kesepakatan teknis. “Ada adegan baku hantam tipis‑tipis antara Saidah dan Airin. Kami sudah janjian, ‘Nanti kamu tampar ke sini, aku bla bla bla’. Sudah dong, berarti kan teknis ya ketika adegan,” ujar Givina sambil tersenyum.

Namun, ketika kamera mulai merekam, intensitas emosi yang dihadirkan kedua aktris melampaui skenario. “Ternyata kayaknya kami terlalu mendalami ya, emosional. That’s why ketika ditampar sama Airin, Bap! Saya kaget,” kata Givina. Ratu Sofya pun mengakui bahwa tamparan tersebut terasa lebih keras dari yang diperkirakan, membuatnya terkejut sekaligus menambah kedalaman karakter.

Pemain lain yang berada di lokasi, termasuk aktor Bhisma Mulia dan Dokter Usman, juga menyaksikan kejadian tersebut. “Bisma juga kaget. Dokter Usman juga kaget. Jadi kami kayak, ‘Oke, tampar balik’, itu dari hati deh kayaknya saya, aku juga agak lupa,” sambung Givina, menambahkan bahwa suasana sempat tegang namun segera cair setelah semua selesai.

Setelah adegan selesai, kedua pemeran langsung memeriksa kondisi masing‑masing. “Kita sama‑sama, ‘Kamu enggak apa‑apa? Maaf ya. Iya enggak apa‑apa, tapi kayaknya kamu personal deh tadi, kenapa sih? Kenapa?’ gitu,” kenang Givina. Meskipun pipinya terasa sakit, Givina menilai pengalaman itu memberikan nilai tambah pada chemistry mereka di layar.

Ratu Sofya menambahkan bahwa karakter Airin memiliki kemiripan dengan kepribadiannya sendiri, terutama dalam hal ketegasan yang kadang berlebih. “Karena ratu Sofya sok keras, tapi aslinya gak. Cuma karena tekanan, pengalaman hidup, ya ada kesamaan juga,” ujarnya, menegaskan bahwa batas antara akting dan realitas kadang menjadi tipis pada produksi film horor yang menuntut kedalaman emosional.

Sutradara Jay Sukmo mengapresiasi dedikasi para pemain. Dalam wawancara terpisah, ia menyatakan bahwa meski adegan tamparan terjadi secara tak terduga, hal itu memperkaya narasi visual dan menambah keaslian konflik antar karakter. “Kami memang menyiapkan batasan, namun ketika aktor masuk ke dalam peran mereka, energi yang muncul bisa melampaui skrip. Itu yang membuat film ini terasa hidup,” ujar Sukmo.

The Bell: Panggilan Untuk Mati dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026. Penonton diharapkan akan merasakan ketegangan psikologis yang dibalut dengan aksi horor tradisional, sekaligus menyaksikan dinamika emosional yang nyata di antara para pemeran utama.

Secara keseluruhan, insiden saling tampar yang terjadi di lokasi syuting menjadi salah satu momen paling berkesan bagi Givina Lukita dan Ratu Sofya. Pengalaman tersebut tidak hanya menambah kedalaman karakter, tetapi juga menjadi cerita di balik layar yang menarik perhatian publik dan menambah antisipasi penonton menjelang rilis film.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *