Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Kasus penipuan pernikahan sejenis yang menghebohkan warga Malang kembali mencuat ke publik. Seorang perempuan bernama IA melaporkan bahwa suaminya, Rey, ternyata bukan laki-laki melainkan seorang wanita yang menyamar demi mengikat ikatan perkawinan dengan IA. Identitas Rey yang sebenarnya terungkap setelah pernikahan berlangsung, menimbulkan pertanyaan serius tentang modus operandi penipu yang menggunakan klaim kebangsawanan politik untuk menambah legitimasi penipuan.
Menurut keterangan IA, pertemuan pertama dengan Rey terjadi secara daring pada awal tahun ini. Rey memperkenalkan diri sebagai seorang pria berusia 28 tahun, berprofesi sebagai pengusaha dan mengaku sebagai anak seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Klaim tersebut disertai dengan foto-foto palsu yang menampilkan Rey bersama sosok yang diduga ayahnya, serta surat-surat digital yang mengesankan. IA, yang merupakan warga Malang, mengaku terkesan dengan latar belakang politik yang ditonjolkan Rey, sehingga memutuskan untuk melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan.
Akad nikah dilangsungkan di sebuah gedung pernikahan di Kota Malang pada pertengahan bulan Maret. Rey tampil dengan pakaian formal pria, lengkap dengan dasi dan jas, serta membawa dokumen identitas yang dipalsukan. Saksi-saksi di lokasi mengakui bahwa Rey tampak sangat meyakinkan, sehingga tidak ada kecurigaan dari tamu undangan maupun petugas yang mengawasi proses pernikahan. IA sendiri mengungkapkan bahwa ia tidak melakukan pemeriksaan latar belakang secara mendalam karena rasa percaya diri Rey yang kuat serta janji-janji masa depan yang menggoda.
Namun, pada malam pertama setelah pernikahan, tanda-tanda kebohongan mulai terungkap. Rey menggunakan alat bantu khusus untuk menutupi perbedaan biologis, yang kemudian diketahui oleh IA ketika ia menemukan kejanggalan pada suara dan penampilan fisik Rey. IA segera menghubungi pihak kepolisian Malang untuk melaporkan dugaan penipuan pernikahan sejenis. Polisi setempat kemudian melakukan penyelidikan, termasuk memeriksa identitas asli Rey, serta memverifikasi klaim Rey sebagai anak DPR.
Penyelidikan mengungkap bahwa Rey tidak memiliki hubungan apa pun dengan anggota DPR manapun. Dokumen-dokumen yang dipresentasikan kepada IA ternyata hasil rekayasa digital, dan foto-foto yang dikirimkan adalah manipulasi dari gambar publik yang diambil dari media sosial. Lebih jauh lagi, catatan kependudukan Rey menunjukkan bahwa ia terdaftar sebagai perempuan dengan nama lengkap yang berbeda, dan tidak pernah mengajukan permohonan perubahan gender secara resmi.
Kasus ini menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat dan lembaga penegak hukum terkait praktik penipuan pernikahan yang semakin canggih. Penipu tidak hanya menyamar secara fisik, melainkan juga memanfaatkan status politik dan sosial untuk menambah kredibilitas. Ahli kriminologi mengingatkan bahwa modus operandi semacam ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi korban, terutama ketika identitas gender yang dipalsukan melanggar norma budaya setempat.
Polisi Malang kini tengah menyiapkan berkas perkara pidana penipuan dengan ancaman hukuman penjara bagi Rey, serta memeriksa kemungkinan jaringan penipuan serupa yang dapat beroperasi di wilayah Jawa Timur. Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan, terutama ketika melibatkan janji-janji yang tampak terlalu sempurna atau klaim-klaim yang sulit diverifikasi.
Kasus Rey menjadi peringatan bagi publik bahwa penipuan tidak hanya terbatas pada keuangan, melainkan juga dapat melibatkan identitas pribadi, status sosial, dan bahkan gender. Ke depan, diharapkan adanya regulasi yang lebih ketat terkait verifikasi identitas dalam proses pernikahan, serta peningkatan edukasi masyarakat tentang bahaya penipuan daring.
Dengan terus berkembangnya teknologi manipulasi data, kasus seperti ini diprediksi akan semakin kompleks. Oleh karena itu, kerja sama antara aparat penegak hukum, lembaga sosial, dan platform digital menjadi kunci dalam mendeteksi serta mencegah penipuan serupa di masa mendatang.
