Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 Juli 2026 | Musim kemarau di Indonesia diprediksi berlangsung hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pemutakhiran informasi prediksi musim kemarau 2026. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa musim kemarau kini mulai banyak dialami banyak wilayah di Indonesia.
BMKG mencatat, sebanyak 198 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 31,6 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Sementara pada Juli 2026, sebanyak 66 ZOM atau 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau, mencakup sebagian wilayah Jambi, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku.
Ardhasena menjelaskan, jika dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991-2020, awal musim kemarau tahun ini cenderung datang lebih cepat di banyak daerah. Sebanyak 308 ZOM atau 39,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dari biasanya. Sementara 165 ZOM diperkirakan sesuai normal, dan 113 ZOM mengalami awal musim kemarau yang lebih lambat.
Selain datang lebih awal, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 didominasi kondisi bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya. Hal ini dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian dan pasokan air.
Di sisi lain, beberapa daerah di Indonesia juga mengalami anomali banjir di tengah musim kemarau. Banjir bandang di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara; Agam, Sumatera Barat; dan Sinjai, Sulawesi Selatan, telah mempengaruhi warga setempat. Warga di daerah terdampak sampai harus mengungsi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa banjir bandang di Kabupaten Agam dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi dan pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo hingga menyebabkan luapan air ke permukiman warga.
BMKG juga merilis peta yang memperlihatkan wilayah yang sudah mengalami musim kemarau pada awal Juli 2026. Wilayah yang telah mengalami musim kemarau ditandai dengan warna cokelat. Sebaran terluas tampak berada di Pulau Jawa, yang hampir seluruh wilayahnya telah memasuki musim kemarau.
Sementara itu, di Sumatera Selatan, 10 daerah telah menetapkan status siaga darurat asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Status siaga berlaku sejak 10 Juli-30 November 2026. Hal ini menjadi langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.
Kekeringan di wilayah Pantura Kabupaten Subang, Jawa Barat, juga telah mempengaruhi pertanian. Sebanyak 1.348 hektar sawah di 45 desa terancam gagal tanam hingga gagal panen. Pemerintah telah menyalurkan seribu 103 unit pompa air untuk membantu petani, namun jumlahnya dinilai masih belum mencukupi kebutuhan di lapangan.
Dalam menghadapi musim kemarau, penting untuk melakukan antisipasi dan pengelolaan sumber daya air yang efektif. Masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi air dan mengurangi dampak kekeringan.
Dengan demikian, perlu dilakukan langkah-langkah nyata untuk mengatasi dampak musim kemarau dan meningkatkan ketahanan pangan dan air di Indonesia. Dengan begitu, masyarakat dapat terhindar dari dampak musim kemarau yang semakin parah.
