Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 29 April 2026 | JAKARTA β Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengumumkan bahwa pemerintah harus turun tangan menyelesaikan utang Whoosh, proyek Kereta Cepat JakartaβBandung yang kini berada pada tahap finalisasi restrukturisasi. Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa struktur permodalan sejak awal tidak ideal, dengan ekuitas minim dan beban utang yang terlalu besar pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Menurut Dony, beban finansial yang dipikul KAI tidak dapat ditanggung sendiri karena kapasitas keuangan operator kereta sudah terpaksa fokus pada operasional harian. “Mau tidak mau tentu harus ada keterlibatan pemerintah di dalam penyelesaian ini karena kalau dibebankan kepada Kereta Api saja tentu Kereta Api tidak cukup untuk menangguh beban finansialnya,” ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta.
Pemerintah berargumen bahwa intervensi ini bukan sekadar bantuan, melainkan langkah strategis untuk menjaga kelangsungan transportasi massal yang menjadi tulang punggung mobilitas nasional. Dengan menyelesaikan utang Whoosh, diharapkan KAI dapat tetap fokus pada peningkatan layanan, sementara beban hutang besar tidak mengganggu keberlanjutan operasional.
- Struktur permodalan tidak seimbang: Proyek dimulai dengan ekuitas yang sangat rendah, sehingga utang menempati porsi mayoritas.
- Risiko kegagalan operasional: Beban utang yang tinggi dapat menurunkan kemampuan KAI dalam menjaga standar layanan dan pemeliharaan.
- Stabilitas keuangan nasional: Mengurangi tekanan pada neraca KAI membantu menstabilkan sektor transportasi publik yang strategis.
- Dukungan pada transportasi massal: Pemerintah menunjukkan komitmen terhadap proyek infrastruktur yang dapat mengurangi kemacetan dan polusi.
- Kepercayaan investor: Penyelesaian utang meningkatkan citra investasi Indonesia, menyiapkan peluang pendanaan selanjutnya.
Koordinasi dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, telah mencapai kesepakatan simbolik untuk menandatangani penyelesaian utang dalam beberapa minggu ke depan. Dony menyampaikan bahwa proses finalisasi kini hanya menunggu penandatanganan resmi, yang akan menutup polemik publik mengenai beban utang Whoosh.
Secara operasional, layanan Whoosh sejak peluncuran awal menunjukkan peningkatan jumlah penumpang, terutama wisatawan mancanegara yang mengandalkan kecepatan kereta antara Jakarta dan Bandung. Data PT KCIC mencatat peningkatan signifikan pada periode Januari hingga Oktober 2025, menandakan potensi pertumbuhan yang tinggi bila kondisi keuangan stabil.
Pemerintah menekankan bahwa langkah ini juga merupakan bentuk keberpihakan pada masyarakat. “Masyarakat diharapkan memahami bahwa ini bagian dari intervensi pemerintah, keberpihakan pemerintah terhadap transportasi massal dan juga memastikan KAI tetap sustain operasional terdepan,” kata Dony dalam konferensi pers.
Dengan penyelesaian utang Whoosh, diharapkan tidak hanya memperkuat posisi KAI, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan proyek infrastruktur serupa di masa depan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan sektor publik.
Langkah restrukturisasi ini diharapkan menjadi contoh kebijakan proaktif pemerintah dalam mengelola proyek infrastruktur besar, memastikan bahwa beban finansial tidak menghambat inovasi dan pelayanan publik yang optimal.
