Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami fluktuasi. Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah menguat sebesar 84 poin atau 0,51 persen menjadi 16.445 per dolar AS dari sebelumnya 16.529 per dolar AS.
Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra, penguatan nilai tukar rupiah dipengaruhi pelemahan data ekonomi Amerika Serikat. "Penguatan rupiah terhadap dolar AS ini karena melemahnya dara ekonomi AS yang dirilis semalam," ucapnya.
Pertama, data indeks manufaktur wilayah New York mengalami kontraksi 9,2 persen dari perkiraan 8,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian AS mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.
Namun, perlu diingat bahwa nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti kondisi fiskal Indonesia dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Oleh karena itu, perlu memantau perkembangan nilai tukar rupiah dengan seksama untuk memahami apa yang terjadi di balik fluktuasi nilai tukar.
Di sisi lain, prediksi rupiah masih lesu ke level Rp17.530 per dolar AS awal pekan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah masih memiliki potensi untuk melemah lebih lanjut.
Untuk itu, perlu melakukan analisis yang lebih mendalam untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Dengan demikian, dapat dipahami apa yang terjadi di balik fluktuasi nilai tukar dan bagaimana menghadapinya.
Sejarah pergerakan rupiah juga menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah telah mengalami banyak fluktuasi sejak awal kemerdekaan. Pada awal kemerdekaan, rupiah memiliki nilai yang kuat, yakni berada di level Rp3,80 per USD. Namun, ketidakstabilan politik dan inflasi tinggi perlahan menggerus nilainya.
Tahun 1957, rupiah merosot ke level Rp90 dan krisis semakin parah pada 1962 hingga menyentuh Rp1.205. Puncaknya terjadi saat peristiwa G30S PKI tahun 1965, rupiah anjlok ke angka Rp4.995 per USD.
Guna menyelamatkan ekonomi, pemerintah melakukan sanering atau pemotongan nilai uang di mana Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru, yang dipatok pada Rp0,25 per USD. Di awal Orde Baru, rupiah sempat stabil di kisaran Rp250 hingga Rp500 per USD.
Namun, badai sesungguhnya datang pada akhir era 90-an. Krisis Moneter (Krismon) 1997-1998 menjadi titik terkelam dalam sejarah rupiah. Dari posisi Rp2.248 di tahun 1995, rupiah terjun bebas hingga mencapai rekor terlemah sepanjang sejarah pada Juni 1998 di level Rp16.800 per USD.
Kini, nilai tukar rupiah terus mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, perlu memantau perkembangan nilai tukar rupiah dengan seksama untuk memahami apa yang terjadi di balik fluktuasi nilai tukar.
Kesimpulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami fluktuasi. Faktor-faktor seperti pelemahan data ekonomi Amerika Serikat, kondisi fiskal Indonesia, dan kebijakan moneter Bank Indonesia mempengaruhi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, perlu melakukan analisis yang lebih mendalam untuk memahami apa yang terjadi di balik fluktuasi nilai tukar dan bagaimana menghadapinya.
