Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Juni 2026 | Komisi V DPR baru-baru ini mengadakan rapat kerja dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi untuk membahas berbagai isu, termasuk perkembangan integrasi sinyal pascakecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Ketua Komisi V DPR, Lasarus, menekankan pentingnya integrasi persinyalan kereta api dan mendesak agar proses ini dipercepat. Ia juga mengusulkan agar persoalan sinyal dilimpahkan kepada PT KAI jika Kemenhub tidak sanggup menanganinya.
Lasarus menjelaskan bahwa persoalan sinyal ini menjadi sorotan karena jadi salah satu temuan paling signifikan oleh KNKT terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Sinyal-sinyal yang ada tidak bisa terintegrasi karena pengadaannya yang berbeda produk, termasuk barang dari Jepang, China, dan LEN.
Peristiwa kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya terluka. Kecelakaan ini terjadi ketika taksi Green SM terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur karena masalah korsleting, kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta.
KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel. Lasarus menekankan bahwa integrasi persinyalan harus diperbaiki segera untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan.
Dalam rapat kerja, Lasarus juga menyarankan agar pemisahan yang jelas antara operator dan regulator di kereta api harus dilakukan. Ia berpendapat bahwa ini akan mempermudah pengelolaan dan pengawasan sistem kereta api.
Integrasi sinyal kereta api merupakan salah satu langkah penting untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi transportasi kereta api di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan kecelakaan seperti ini tidak akan terulang lagi di masa depan.
