Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 Agustus 2026 | Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan tersebut. Keputusan ini memicu berbagai reaksi dan kritik dari berbagai kalangan, termasuk dari mantan Sekretaris Pers Gedung Putih di era Presiden Joe Biden, Jen Psaki.
Jen Psaki menyatakan bahwa Karoline Leavitt jarang menghadapi pertanyaan yang sulit selama masa jabatannya sebagai Sekretaris Pers. Psaki juga mengkritik pendekatan Leavitt dalam menghadapi pers, yang menurutnya lebih seperti menciptakan ‘ruang aman’ pribadi daripada berinteraksi dengan pers secara terbuka dan jujur.
Leavitt, yang merupakan salah satu ajudan terdekat Trump dan pembela publiknya yang paling vokal, akan meninggalkan jabatannya pada akhir bulan ini untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya. Trump menyatakan bahwa Leavitt akan tetap menjadi penasihat utama di luar Gedung Putih dan suara yang berpengaruh dalam Partai Republik menjelang pemilihan tengah masa.
Pengunduran diri Leavitt ini juga memicu spekulasi tentang siapa yang akan menggantikannya. Salah satu nama yang disebut-sebut adalah Scott Jennings, seorang komentator politik CNN yang telah mendukung administrasi Trump. Jennings sendiri menyatakan bahwa menggantikan Leavitt akan menjadi tantangan besar, mengingat Leavitt telah menunjukkan kemampuan luar biasa sebagai Sekretaris Pers.
Kontroversi seputar Leavitt tidak hanya terbatas pada gaya komunikasinya dengan pers, tetapi juga pada beberapa pernyataannya yang menuai kritik. Salah satu contoh adalah ketika Leavitt menyebut skandal Jeffrey Epstein sebagai ‘hoax’ dan membiarkan beberapa tokoh sayap kanan yang kontroversial menghadiri briefings pers di Gedung Putih.
Dalam konteks ini, pengunduran diri Karoline Leavitt menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana administrasi Trump akan menangani komunikasi dengan pers dan publik di masa depan. Apakah penggantinya akan membawa gaya yang berbeda dan lebih terbuka, ataukah kontroversi akan terus mengelilingi posisi Sekretaris Pers Gedung Putih?
