Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Helikopter Airbus H-130 tipe H-130T2 dengan registrasi PK-CFX lepas landas dari helipad PT Citra Mahkota (PT CMA) di Desa Nanga Keruap, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi pada pukul 07.34 WIB, menempuh rute menuju helipad PT Graha Agro Nusantara 1 di Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya. Pada pukul 08.39 WIB, kontak radio tiba‑tiba terputus. Posisi terakhir terdeteksi berada di koordinat 0°10’51,91″ LS – 110°47’25,49″ BT, tepat di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Setelah hilang kontak, tim SAR gabungan segera dikerahkan. Pada sore harinya, sekitar 35 personel terdiri dari Polres Sekadau, Brimob, dan Basarnas berangkat menuju lokasi dugaan jatuh. Operasi dipimpin oleh Kabagops Polres Sekadau AKP Sugiyanto dan mendapat dukungan tambahan dari TNI Kodim 1204/Sanggau, Yon TP 833 Bumi Daranante, serta petugas BPBD, KPH, Damkar, dan relawan setempat. Pada malam hari, tim udara menggunakan helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara berhasil mengidentifikasi puing‑puing yang diduga berasal dari PK‑CFX.
Keesokan paginya, tim SAR menemukan lokasi tepatnya di lereng curam dengan ketinggian sekitar 50 meter dari titik jatuh. Pada saat penemuan, tujuh korban telah ditemukan meninggal dunia. Empat jenazah berhasil dievakuasi ke dalam kantong mayat, sementara tiga jenazah masih terperangkap di dalam bangkai helikopter. Karena medan yang sangat terjal dan cuaca hujan deras, evakuasi diputuskan untuk dilanjutkan pada pagi hari berikutnya dengan peralatan rapelling dan hoisting yang disiapkan oleh Yonko 466 Kopasgat.
Helikopter tersebut membawa delapan orang, yaitu dua awak penerbangan—Capt. Marindra W (pilot) dan Harun Arasyd (kopilot)—serta enam penumpang: Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito. Hingga kini, satu penumpang masih belum ditemukan dan identitas korban masih menunggu konfirmasi resmi.
Berbagai kendala menghambat proses pencarian dan evakuasi. Medan hutan lebat, lereng berbukit, serta cuaca buruk memperlambat upaya tim darat. Koordinasi komunikasi juga terbatas karena sinyal di daerah tersebut lemah. Tim SAR terus memantau situasi dari udara dan darat, menunggu kedatangan peralatan tambahan serta dukungan logistik.
Pengamat menilai bahwa kejadian ini menambah daftar tragedi penerbangan sipil di wilayah Kalimantan Barat, mengingat rute pendek melintasi area yang sulit dijangkau. Pemerintah daerah dan kementerian terkait telah menyatakan komitmen untuk menyelidiki penyebab hilangnya kontak, termasuk faktor teknis helikopter dan kondisi cuaca pada saat itu.
Sementara proses evakuasi masih berlangsung, masyarakat diminta untuk tidak mendekati lokasi kecelakaan demi menjaga keselamatan dan mempermudah pekerjaan tim penyelamat. Informasi lebih lanjut akan terus disampaikan oleh pihak berwenang seiring perkembangan situasi.
