Awan Pelangi di Langit Bogor, Sentul, dan Bekasi: Fenomena Optik Langka yang Dijelaskan BMKG dan BRIN

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Pada Jumat, 1 Mei 2026, warga di beberapa wilayah Jabodetabek – khususnya Bogor, Sentul, dan Bekasi – dikejutkan oleh penampakan awan berwarna pelangi yang tampak melayang di antara awan tipis. Momen tersebut dengan cepat menjadi viral di media sosial, dengan ratusan foto dan video yang diunggah dalam hitungan menit. Banyak netizen yang mengaitkannya dengan pertanda bencana, sementara sebagian lainnya menganggapnya sekadar fenomena alam yang menakjubkan.

Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipimpin oleh Thomas Jamalludin memberikan penjelasan ilmiah pertama. Menurutnya, awan pelangi merupakan contoh iridescent cloud atau awan beriridesensi. Warna‑warna pastel muncul ketika tetesan air di dalam awan memantulkan cahaya matahari pada sudut tertentu. Kondisi ini membutuhkan awan yang sangat tipis, dengan butiran air atau kristal es berukuran hampir seragam, sehingga cahaya hanya menabrak satu atau sedikit partikel pada satu waktu. Fenomena ini jarang terjadi karena kebanyakan awan berada dalam keadaan optik yang lebih tebal.

Baca juga:

Penjelasan serupa disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca, Agita Vivi, menegaskan bahwa warna‑warna pelangi yang terlihat bukan merupakan tanda akan terjadi badai atau gempa, melainkan interaksi cahaya matahari dengan butiran air yang tersisa dari hujan lokal. “Warna pelangi muncul akibat pembiasan cahaya matahari oleh butir‑butir air di atmosfer, baik sisa hujan maupun hujan yang sedang terjadi di wilayah lain,” ujar Agita dalam wawancara dengan media.

Ida Pramuwardani, Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, menambahkan bahwa keberadaan awan jenis towering cumulus yang menutupi sebagian pelangi dapat membuat bentuknya tampak tidak utuh, sehingga muncul kesan “awan pelangi”. Ia menegaskan bahwa fenomena ini tidak mengindikasikan ancaman cuaca ekstrem, melainkan menandakan pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan lokal dalam waktu singkat.

Berbagai lokasi melaporkan kondisi serupa. Di Jonggol, Bogor, seorang pengendara bernama Ahmad Baehaqy Pratama menyatakan, “Belum hujan, tapi di sebelah kanan kayak ada pelangi.” Lalu lintas sempat melambat karena banyak pengendara yang berhenti merekam fenomena tersebut. Di Sentul City, warga melaporkan bahwa awan berwarna muncul ketika sebagian langit masih cerah sementara bagian lain berada dalam bayangan awan tebal.

Secara teknis, fenomena iridesensi awan dapat dijelaskan melalui konsep difraksi cahaya. Tetesan air atau kristal es berukuran mikro menimbulkan pola interferensi yang menghasilkan spektrum warna, mirip dengan efek pelangi pada lapisan minyak di permukaan air. NASA mencatat bahwa iridesensi paling sering terlihat pada awan altokumulus, sikrokumulus, awan lentikular, dan awan cirrus. Warna biasanya pastel, namun pada kondisi matahari yang kuat dapat tampak lebih cerah. Untuk mengamati fenomena ini, para ahli menyarankan menutup cahaya matahari langsung dengan tangan, pohon, atau menggunakan kaca cembung, sehingga efek warna menjadi lebih jelas.

Berita-berita lain yang beredar menyebutkan adanya spekulasi bahwa video‑video tersebut merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI). Namun, peneliti BRIN dan perwakilan BMKG menegaskan bahwa video‑video tersebut merekam peristiwa nyata. Mereka menambahkan bahwa durasi tampilan awan pelangi biasanya hanya beberapa menit hingga puluhan menit, tergantung pada posisi matahari dan tingkat kelembapan udara.

Reaksi publik beragam. Sebagian warga mengaitkan fenomena dengan peristiwa bencana masa lalu, seperti tsunami Aceh, sementara yang lain menilai bahwa awan pelangi merupakan peluang edukasi publik tentang ilmu atmosfer. Media lokal pun menyiapkan program khusus untuk menjelaskan fenomena optik ini, berharap dapat menurunkan kepanikan dan meningkatkan literasi sains.

Secara keseluruhan, awan pelangi yang muncul pada 1 Mei 2026 merupakan peristiwa alam yang langka namun dapat dijelaskan secara ilmiah. Kombinasi antara awan tipis, tetesan air seragam, serta sudut masuk cahaya matahari menciptakan spektrum warna yang menawan. Fenomena ini menegaskan bahwa atmosfer kita terus menyajikan pertunjukan visual yang menarik, sekaligus mengingatkan pentingnya pemahaman ilmiah dalam menanggapi persepsi publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *