Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | NASA pada Jumat sore, 10 April 2026, mengumumkan bahwa modul kru Orion telah berhasil memisahkan diri dari modul layanan dan sedang bersiap untuk masuk kembali ke atmosfer Bumi. Empat astronot – Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronot Kanada Jeremy Hansen – akan meluncur kembali dengan kecepatan puncak sekitar 24.000 hingga 25.000 mil per jam, menjelang fase paling berbahaya dari misi bersejarah ini.
Prosedur reentry dimulai pada pukul 19.33 ET ketika modul kru menyesuaikan posisi perisai panasnya. Selanjutnya, pada pukul 19.37 ET, Orion melakukan “raise burn” selama 18 detik untuk mengatur sudut masuk yang tepat. Pada pukul 19.53 ET, ketika ketinggian mencapai sekitar 400.000 kaki, awak akan merasakan gaya gravitasi hampir 3,9 G saat kapsul menembus lapisan atmosfer atas. Pada titik ini, komunikasi radio akan terputus selama kira-kira enam menit karena plasma panas yang terbentuk menghalangi sinyal, sebuah fenomena yang dikenal sebagai blackout komunikasi.
Setelah melewati fase blackout, Orion diperkirakan akan muncul kembali di atas laut pada pukul 20.07 ET, tepat di perairan Pasifik sebelah barat daya San Diego, California. Kapal pemulihan USS John P. Murtha, yang dilengkapi dengan empat helikopter dan enam perahu kecil, telah berada di lokasi dengan kondisi cuaca yang mendukung: awan berpecah, angin sekitar 10 knot, dan gelombang laut sekitar empat kaki.
Selama misi, Orion mencatatkan sejumlah pencapaian penting. Jarak total yang ditempuh mencapai 694.481 mil, sementara jarak terjauh dari Bumi yang dicapai adalah 252.756 mil – melampaui rekor Apollo 13 sebesar 4.000 mil. Kecepatan maksimum yang diprediksi mencapai 24.661,21 mil per jam, hanya selisih 130 mil dari rekor kecepatan manusia pada misi Apollo 10 pada tahun 1969. Pada saat kembali, suhu perisai panas diperkirakan akan naik hingga 5.000 derajat Fahrenheit, setengah suhu permukaan matahari yang terlihat.
Astronot juga melaporkan persiapan terakhir sebelum reentry, termasuk penggunaan pakaian pelindung khusus Orion Crew Survival System serta konsumsi obat anti-mual untuk mengantisipasi efek fisik saat kembali ke gravitasi Bumi. Tim medis NASA menekankan pentingnya hidrasi dan pemantauan kondisi tubuh para kru, mengingat proses readaptasi tubuh yang cepat dapat menimbulkan mual atau muntah.
Selain aspek teknis, momen emosional turut menyertai perjalanan ini. Selama fase akhir, Jeremy Hansen mengungkapkan dedikasi pribadi dengan menamai sebuah kawah di bulan “Carroll” untuk menghormati istri Reid Wiseman yang meninggal pada 2020. Selain itu, kru mengabadikan foto-foto menakjubkan menggunakan iPhone, termasuk gambar Bumi terbenam di balik bulan serta totalitas gerhana matahari yang hanya dapat dilihat dari luar angkasa.
Setelah splashdown, NASA menatap langkah selanjutnya dalam program Artemis. Misi tanpa awak untuk pendaratan lunar diperkirakan akan diluncurkan pada 2026, diikuti oleh misi uji coba Artemis III pada 2027 yang akan menyiapkan pendaratan manusia pertama kembali ke permukaan Bulan pada 2028. Program ini juga berfungsi sebagai batu loncatan menuju misi berawak ke Mars dalam dekade berikutnya, dengan tujuan akhir membangun pangkalan permanen di Bulan.
Dengan keberhasilan Artemis II, NASA tidak hanya menegaskan kembali keunggulan teknologi antariksa Amerika Serikat, tetapi juga membuka jalan bagi generasi penerus penjelajahan luar angkasa. Keberanian, inovasi, dan kolaborasi internasional yang ditunjukkan oleh awak kini menjadi inspirasi bagi proyek-proyek luar angkasa selanjutnya, sekaligus menegaskan komitmen global terhadap eksplorasi bulan dan planet-planet lain.
