Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 06 Mei 2026 | Insiden penyerangan dengan air keras yang terjadi di Manonjaya, Tasikmalaya pada akhir pekan lalu menimbulkan kepanikan luas. Seorang kurir yang diketahui memiliki masalah pribadi memutuskan untuk menyiram air keras ke sejumlah warga dan pekerja konveksi, menimbulkan luka bakar yang mengancam jiwa dan penglihatan.
Menurut laporan medis, empat orang korban mengalami luka bakar serius pada area wajah, tangan, dan bagian tubuh lainnya. Mereka segera dilarikan ke RSUD Tasikmalaya, di mana masing-masing harus menjalani operasi kulit dan perawatan intensif. Salah satu korban, seorang wanita berusia 32 tahun, dinyatakan berisiko mengalami kebutaan permanen akibat kerusakan pada kornea.
Selain empat korban utama yang dirawat di rumah sakit, total korban yang terkena air keras diperkirakan mencapai dua puluh satu orang. Sebanyak sembilan warga umum melaporkan luka bakar ringan hingga sedang, sementara lima belas pegawai dari perusahaan konveksi Aqila di Manonjaya juga mengalami cedera pada tangan dan wajah. Semua korban melaporkan rasa terbakar yang luar biasa, dengan kulit mengelupas dan nyeri hebat.
- 9 warga umum – luka bakar ringan hingga sedang, dirawat di puskesmas setempat.
- 15 pegawai Aqila Konveksi – luka bakar pada tangan dan wajah, beberapa memerlukan perawatan luka lanjutan.
- 4 korban luka bakar serius – dirawat di RSUD Tasikmalaya, satu di antaranya berpotensi buta.
Pihak kepolisian setempat segera melakukan penyelidikan setelah menerima laporan berulang dari para korban. Dalam waktu kurang dari dua hari, pelaku yang merupakan seorang kurir pengantar barang berhasil ditangkap di wilayah Tasikmalaya. Identitas pelaku belum diungkapkan secara lengkap, namun diketahui bahwa ia memiliki riwayat perselisihan dengan manajemen perusahaan konveksi tempat ia bekerja.
Menurut pernyataan resmi kepolisian, tindakan penyerangan menggunakan air keras dikategorikan sebagai tindak pidana kekerasan dan mengancam keselamatan publik. Pelaku kini berada dalam tahanan dan akan menjalani proses hukum sesuai dengan peraturan perundang‑undangan yang berlaku.
Para ahli medis menekankan bahwa luka bakar akibat bahan kimia seperti air keras dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang. Pada kasus korban yang mengancam kebutaan, dokter melakukan debridemen luka dan menyiapkan prosedur transplantasi kornea bila diperlukan. Sementara itu, korban lain yang mengalami luka bakar pada tangan harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan fungsi motorik.
Kejadian ini menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat dan organisasi hak asasi manusia, yang menuntut adanya peningkatan keamanan dan penanganan konflik internal di tempat kerja. Pihak berwenang di Kabupaten Tasikmalaya juga berjanji akan memperketat prosedur keamanan di area industri serta meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan bahan kimia berbahaya.
Sejauh ini, korban dan keluarga mereka mendapatkan dukungan moral dari komunitas lokal. Beberapa relawan membantu menyediakan makanan dan kebutuhan dasar bagi keluarga korban yang harus tinggal di rumah sakit selama perawatan intensif. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyatakan akan memberikan bantuan medis dan psikologis kepada semua korban.
Insiden air keras Manonjaya menjadi pengingat akan pentingnya penegakan hukum yang tegas serta perlunya edukasi mengenai bahaya bahan kimia. Diharapkan, dengan penangkapan pelaku dan penanganan medis yang tepat, para korban dapat pulih sepenuhnya dan kejadian serupa dapat dicegah di masa depan.
Kasus ini masih terus dipantau oleh pihak berwenang, dan proses hukum terhadap pelaku diharapkan akan selesai dalam beberapa minggu mendatang. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan melaporkan setiap tindakan kekerasan yang melibatkan bahan kimia berbahaya.
