Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Mei 2026 | Fenomena iklim El Nino 2026 kembali menimbulkan kepanikan di seluruh Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitasnya mencapai level “Godzilla”, yang mengakibatkan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama, serta curah hujan berada di bawah normal. Dampaknya terasa langsung pada peningkatan suhu, defisit air, dan kebakaran hutan yang kini meluas dari Sumatra hingga Kalimantan Tengah dan Jawa.
Satellit penginderaan jauh mengidentifikasi lebih dari enam ribu titik api aktif di wilayah Sumatra sejak awal Mei 2026. Sebagian besar konsentrasi berada di area gambut di provinsi Sumatera Utara dan Riau, dimana tanah kering mudah terbakar. Pemerintah daerah telah mengerahkan tim pemadam dan menyiapkan armada helikopter untuk penanggulangan cepat, namun tantangan logistik dan akses yang sulit menghambat respons.
Di Kalimantan Tengah, otoritas setempat menempatkan provinsi dalam status siaga satu. Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kalteng, Maimunah, menegaskan perlunya penegakan hukum tegas terhadap pembukaan lahan ilegal yang menjadi pemicu utama kebakaran. “Jika penegakan hukum benar-benar dilakukan, kepatuhan masyarakat akan meningkat,” ujarnya pada Selasa, 5 Mei 2026. Direktur Eksekutif WALHI Kalteng, Janang Firman Palanungkai, menambahkan bahwa lahan gambut yang sudah terdegradasi akibat program strategis nasional kini rentan terbakar puluhan persen lebih tinggi.
Ahmad Toyib, Kepala BPBD Kalteng, mengingatkan bahwa musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada akhir Mei dan bertahan hingga Oktober, dengan potensi El Nino mulai Juni. Meskipun pemerintah optimis dengan sistem deteksi dini, ia menekankan pentingnya sinergi antara aparat, perusahaan tambang, dan asosiasi pengusaha seperti GAPKI dan APHI untuk memperkuat patroli di area konsesi.
Di Jawa, khususnya kota Semarang, BMKG memproyeksikan suhu maksimum mencapai 37‑38°C pada puncak musim kemarau. Kombinasi antara El Nino kuat dan fenomena Urban Heat Island (UHI) membuat suhu di titik-titik seperti Tugu Muda dan Lapangan Garnisun melampaui batas normal. Kondisi kering ini meningkatkan risiko kebakaran lahan perkotaan dan memperparah kualitas udara.
Berbagai lembaga mengusulkan langkah mitigasi yang terintegrasi:
- Peningkatan pemantauan titik api melalui sensor satelit dan drone;
- Pembangunan embung dan sumur resapan di zona perbatasan kawasan konservasi untuk menyediakan air bagi satwa dan mencegah pergerakan ke permukiman;
- Pelatihan dan pemberdayaan relawan lokal dalam patroli dan penanganan kebakaran awal;
- Penegakan hukum tegas terhadap pembukaan lahan tanpa izin serta pembakaran sampah terbuka;
- Program edukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran dan pentingnya tidak memberi makan satwa liar agar mereka tidak terdorong masuk ke area pemukiman.
Selain upaya teknis, pemerintah mengaktifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berhasil menurunkan intensitas kebakaran pada El Nino 2023. Namun, efektivitasnya pada skala El Nino 2026 yang lebih kuat masih menjadi pertanyaan. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, serta lembaga konservasi menjadi kunci utama.
Warga di daerah rawan disarankan untuk selalu memantau informasi cuaca, menyiapkan perlengkapan darurat, dan melaporkan tanda-tanda kebakaran melalui call center BPBD setempat. Penanganan kebakaran yang cepat tidak hanya melindungi hutan, tetapi juga mengurangi dampak kesehatan akibat kabut asap yang dapat menurunkan kualitas hidup jutaan orang.
Dengan ribuan titik api yang sudah terdeteksi, ancaman El Nino 2026 menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Keberhasilan mitigasi akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat luas. Setiap langkah kecil, mulai dari tidak membuang puntung rokok sembarangan hingga mendukung program penghijauan, dapat berkontribusi mengurangi risiko kebakaran yang dapat meluas ke seluruh nusantara.
