Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keberatan kuat terhadap proposal perdamaian Iran yang baru-baru ini dikirimkan kepada Washington melalui perantara Pakistan. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social pada Minggu 3 Mei 2026, Trump menegaskan bahwa ia akan meninjau dokumen tersebut, namun tidak membayangkan rencana itu dapat diterima karena menurutnya Iran belum membayar harga yang cukup atas tindakan selama hampir lima puluh tahun.
Penolakan tersebut muncul di tengah serangkaian pertemuan rahasia yang melibatkan delegasi Tehran dan pejabat militer di Islamabad. Proposal berjumlah 14 poin tersebut mencakup penghentian semua bentuk konflik, pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, serta kerangka kerja baru untuk keamanan maritim. Namun, pihak Amerika menilai bahwa isu nuklir tetap menjadi batu sandungan utama.
Seorang wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan bahwa “bola kini berada di tangan AS untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan perang.” Pernyataan ini menegaskan kesiapan Tehran untuk kedua opsi, sekaligus menekan Washington agar memasukkan kembali program nuklir Iran ke dalam meja perundingan, sebagaimana dilaporkan oleh Axios pada awal pekan ini.
Para pengamat menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz menjadi faktor penguat dalam keputusan Trump. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia, dan setiap gangguan dapat memicu lonjakan harga energi secara global. Iran menuduh Amerika melakukan blokade tidak resmi, sementara Amerika menuduh Iran mengancam keamanan kapal-kapal komersial dengan taktik “bajak laut”.
Sejumlah analis strategis, termasuk dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, menyoroti latar belakang historis isu nuklir Iran. Program nuklir Tehran awalnya dikembangkan pada era Shah dengan dukungan Barat, namun Revolusi 1979 memutuskan kerjasama tersebut. Sejak itu, Tehran mengembangkan kemampuan nuklir secara mandiri, menimbulkan kecurigaan internasional dan serangkaian sanksi ekonomi yang memperdalam ketegangan.
Dalam wawancara singkat di West Palm Beach, Florida, Trump menolak mengungkapkan detail apa yang dapat memicu aksi militer baru. Ia menyatakan, “Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, tetapi untuk saat ini, kita akan lihat nanti. Tapi ada kemungkinan hal itu bisa terjadi, tentu saja.” Pernyataan ini menambah kecemasan di kalangan komunitas internasional tentang kemungkinan eskalasi militer di wilayah tersebut.
Di sisi lain, pejabat senior militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menegaskan bahwa “bukti telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun.” Sikap keras ini memperkuat pandangan bahwa konflik baru AS-Iran semakin tak terhindarkan jika tidak ada kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak.
Berbagai negara sahabat, termasuk Pakistan sebagai tuan rumah mediasi, berupaya menjaga agar negosiasi tetap hidup. Namun, ketidakpastian kebijakan AS setelah pemilihan presiden 2024 menambah lapisan kerumitan. Para pakar geopolitik menilai bahwa kepentingan Amerika di Timur Tengah—termasuk menahan pengaruh Iran, melindungi sekutu Israel, dan memastikan stabilitas energi—akan terus mempengaruhi sikapnya terhadap setiap proposal perdamaian Iran yang muncul.
Sejauh ini, tidak ada tanda bahwa Washington akan mengesampingkan isu nuklir dalam rangka mencapai gencatan senjata. Sebaliknya, pihak Amerika tampaknya menggunakan isu tersebut sebagai kartu tawar untuk menekan Tehran agar menghentikan program senjata nuklirnya atau setidaknya membuka akses inspeksi yang lebih luas bagi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dengan tekanan ekonomi global, inflasi energi, dan ketidakpastian politik, masyarakat internasional menantikan langkah konkret dari kedua pihak. Jika negosiasi gagal, risiko terjadinya konflik bersenjata di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak dunia dan menimbulkan dampak ekonomi yang luas.
Kesimpulannya, penolakan Trump terhadap proposal perdamaian Iran menegaskan bahwa isu nuklir tetap menjadi pusat perdebatan. Tanpa penyelesaian yang memuaskan, ketegangan di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan terus berlanjut, menambah beban bagi diplomasi global.
