Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 30 April 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Pada sesi perdagangan Kamis (30/4/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami penurunan meski perusahaan baru saja mengumumkan kinerja kuartal I yang positif. Harga penutupan pertama tercatat Rp 3.010 per lembar, turun 1,95% dibandingkan hari sebelumnya, dan sempat menyentuh titik terendah lima tahun terakhir di sekitar Rp 2.990.
Penurunan tersebut tidak mencerminkan kelemahan fundamental BBRI. Laba bersih konsolidasi kuartal I 2026 mencapai Rp 15,5 triliun, naik 13,7% secara year‑on‑year (YoY). Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp 1.562 triliun, meningkat 13,68% YoY, dengan segmen UMKM menyumbang Rp 1.211 triliun.
Manajemen BRI menekankan bahwa rasio permodalan (CAR) tetap tebal pada 22,9%, sementara rasio loan‑to‑deposit (LDR) hanya sedikit naik menjadi 87,00% dari 86,58% pada periode sebelumnya. Kedua indikator ini memberi sinyal bahwa bank mampu menahan goncangan ekonomi global dan tetap menjaga likuiditas.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa penurunan harga saham lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, bukan faktor fundamental. Dalam konferensi pers virtual, ia menegaskan bahwa investor tidak perlu terpengaruh oleh fluktuasi harian karena BBRI memiliki dividend yield dua digit yang dapat memberikan return sekitar 10‑11% per tahun, jauh di atas deposito atau reksa dana pasar uang.
- Dividen tunai tahun buku 2025: Rp 52,1 triliun (91,19% dari laba bersih)
- Payout ratio sejak 2021: >80%
- Dividend yield: dua digit, mendekati 10‑11%
Hery menambahkan, “Jika Anda berinvestasi dengan horizon lima sampai dua puluh tahun, BBRI tetap menjadi pilihan blue‑chip yang solid. Fokus pada fundamental dan dividend yield, bukan pergerakan harga harian.”
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama juga mengalami koreksi 1,71% ke level 6.979.994, menandakan tekanan jual yang meluas di pasar domestik. Volume perdagangan mencapai 40,96 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 17,54 triliun.
Para analis tetap optimis. Mereka menilai bahwa bila makroekonomi global dan domestik membaik, saham dengan fundamental kuat seperti BBRI akan kembali menguat mengikuti tren indeks. Sementara itu, investor ritel yang mengincar nilai jangka panjang disarankan memanfaatkan harga saat ini yang relatif murah dibandingkan rata‑rata lima tahun terakhir.
Secara keseluruhan, meski harga BBRI berada di zona merah, data keuangan kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba, penyaluran kredit yang solid, serta kebijakan dividen yang menarik. Kombinasi tersebut membuat BBRI tetap menjadi salah satu emiten paling defensif di pasar saham Indonesia.
