Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Yadea Indonesia kembali menarik perhatian publik dengan menggelar uji keliling antarkota yang menantang, menempuh lebih dari 150 kilometer dari Bandung ke Bogor dalam satu kali pengecasan. Uji coba ini tidak hanya berfungsi sebagai demonstrasi teknis, melainkan juga sebagai upaya mengubah persepsi bahwa sepeda motor listrik terbatas hanya untuk penggunaan perkotaan.
Sejak peluncuran lini produk motor listrik, Yadea berfokus pada pengembangan baterai berkapasitas tinggi serta sistem kontrol pintar. Pasar kendaraan listrik Indonesia masih berada pada tahap pertumbuhan, namun kebijakan pemerintah yang mendukung elektrifikasi transportasi memberi ruang bagi produsen lokal untuk berinovasi. Dengan latar belakang tersebut, Yadea menyiapkan dua model andalannya, OSTA P dan Velax U, untuk menguji ketahanan pada kondisi jalan nyata.
Rute Bandung‑Bogor dipilih karena karakteristiknya yang beragam. Jalur melintasi kawasan Puncak menghadirkan tanjakan panjang dengan gradien mencapai 8‑10 persen, sementara bagian Sasak Rajamandala menuntut kemampuan manuver pada jalan berkelok. Kombinasi tanjakan, turunan, serta kepadatan lalu lintas menjadi medan uji ideal untuk menilai efisiensi energi, kestabilan sistem pengereman, dan respons mesin listrik dalam berbagai situasi.
Model OSTA P dilengkapi baterai lithium‑ion berkapasitas 2,1 kWh, motor listrik berdaya 4 kW, serta sistem pendingin cair yang dirancang untuk menjaga suhu optimal selama perjalanan jauh. Velax U, di sisi lain, menggunakan baterai 2,5 kWh dengan motor 4,5 kW, menawarkan rentang yang sedikit lebih luas dan akselerasi yang lebih responsif. Kedua motor dipasangi sistem manajemen baterai cerdas yang dapat menyesuaikan aliran daya secara real‑time.
Hasil uji menunjukkan bahwa kedua motor berhasil menempuh jarak lebih dari 150 km dengan sisa kapasitas baterai sekitar 12‑15 %. Konsumsi energi rata‑rata tercatat pada 13,8 Wh/km untuk OSTA P dan 13,2 Wh/km untuk Velax U, angka yang kompetitif bila dibandingkan dengan motor listrik sekelas di pasar internasional. Waktu tempuh total dari Bandung ke Bogor mencatat 4 jam 12 menit, dengan kecepatan rata‑rata 36 km/jam, termasuk waktu singkat untuk mengisi daya kembali di pos pengecasan darurat.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan teknologi AiGO (Intelligent Riding System) dan iControl (Intelligent Control System). AiGO berfungsi mengoptimalkan manajemen baterai, mengatur distribusi daya ke motor dan sistem auxiliary, serta memberikan peringatan dini bila suhu baterai mendekati batas kritis. Sementara iControl menghadirkan fitur Traction Control System (TCS) dan Hill Descent Control (HDC) yang menjaga traksi pada tanjakan curam dan menstabilkan turunan dengan kontrol pengereman otomatis.
“Kami ingin membuktikan bahwa sepeda motor listrik saat ini penggunaannya tak hanya sebatas untuk penggunaan perkotaan, namun mumpuni untuk perjalanan antarkota,” ujar Andy Luo, VP & GM Penjualan dan Pemasaran Yadea Indonesia dalam konferensi pers yang digelar pada 27 April 2026. Luo menambahkan bahwa hasil uji ini akan menjadi acuan untuk pengembangan varian selanjutnya, termasuk peningkatan kapasitas baterai dan integrasi jaringan pengisian cepat di wilayah Jawa Barat.
Implikasi hasil uji melampaui sekadar prestasi teknis. Dengan menampilkan motor listrik yang dapat menempuh jarak menengah tanpa harus sering mengisi ulang, Yadea berpotensi memperluas basis konsumen yang sebelumnya ragu karena kekhawatiran tentang jarak tempuh. Pemerintah daerah pun menyambut baik inisiatif ini, mengingat rencana penambahan infrastruktur pengisian listrik di jalan tol dan kawasan wisata.
Ke depan, Yadea berencana menggelar serangkaian uji jarak tempuh di rute lain, termasuk lintasan Jawa Tengah‑Yogyakarta serta jalur pantai selatan Jawa. Selain itu, perusahaan sedang mengembangkan versi motor dengan baterai solid‑state yang diprediksi dapat meningkatkan jarak tempuh hingga 200 km dengan waktu pengisian kurang dari 30 menit.
Kesimpulannya, motor listrik Yadea berhasil menembus ambang 150 km dalam satu kali pengecasan pada rute Bandung‑Bogor yang menantang. Keberhasilan ini menegaskan bahwa teknologi baterai dan sistem kontrol pintar kini cukup matang untuk melayani kebutuhan mobilitas antarkota, membuka peluang baru bagi adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
