Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler โ 28 April 2026 | Di balik citra megah gedung pencakar langit di Shenzhen dan Beijing, terdapat praktik kerja yang menjerat jutaan tenaga kerja: sistem 996, di mana karyawan diminta hadir dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam seminggu. Praktik ini menuntut total 72 jam kerja per minggu, jauh melampaui standar kesehatan internasional dan melanggar batas legal Tiongkok yang seharusnya 44 jam.
Awal mula budaya lembur berlebihan ini dapat ditelusuri kembali ke era reformasi ekonomi pada 1970-an. Pemerintah mendorong pertumbuhan cepat untuk mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan, menjadikan kerja keras simbol nasionalisme. Seiring waktu, budaya tersebut menancapkan dirinya pada perusahaan teknologi dan startup, di mana para pendiri menganggap jam kerja panjang sebagai bukti dedikasi.
Namun realitas di lapangan menunjukkan konsekuensi yang mengerikan. Berikut beberapa dampak utama yang telah tercatat:
- Kelelahan kronis dan gangguan tidur yang mengurangi produktivitas.
- Nyeri otot, gangguan pencernaan, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
- Tekanan mental yang berujung pada depresi, kecemasan, bahkan tindakan bunuh diri.
- Penurunan kualitas keputusan karena kelelahan otak, meningkatkan risiko kesalahan fatal.
- Burnout massal yang menurunkan retensi tenaga kerja dan menambah biaya rekrutmen.
Secara ekonomi, paradoks muncul: meski perusahaan mengharapkan peningkatan output, data menunjukkan bahwa produktivitas per jam menurun signifikan setelah 50 jam kerja mingguan. Pengeluaran untuk perawatan kesehatan dan klaim asuransi pun melonjak, menambah beban biaya operasional.
Sejak 2019, generasi muda Tiongkok mulai mengorganisir protes secara daring. Programmer mengembangkan โblacklistโ perusahaan yang menerapkan sistem 996, menolak melamar atau bekerja di sana. Acara televisi mulai menyoroti isu ini, memaksa pemerintah memperhatikan tekanan sosial.
Pemerintah Tiongkok pun mengambil langkah regulasi, menegaskan bahwa jam kerja melebihi 44 jam per minggu harus dibayar dengan upah lembur yang layak, serta mengancam sanksi bagi perusahaan yang melanggar. Kebijakan ini dirancang untuk menghindari krisis demografis akibat kelelahan generasi pekerja.
Ironisnya, ketika Tiongkok berupaya memperbaiki praktik kerja, beberapa investor di Silicon Valley melirik sistem 996 sebagai model efisiensi ekstrem. Hal ini menegaskan bahwa obsesi pertumbuhan ekonomi sering kali mengorbankan martabat manusia.
Solusi yang lebih manusiawi menekankan keseimbangan antara kerja dan kehidupan. Perusahaan yang mengadopsi fleksibilitas waktu, kerja jarak jauh, dan penilaian berbasis hasil (bukan jam hadir) menunjukkan peningkatan kepuasan karyawan serta inovasi yang lebih tinggi. Budaya kerja yang menghargai kualitas output dibandingkan durasi duduk di depan layar menjadi kunci produktivitas berkelanjutan.
Kesimpulannya, sistem 996 bukanlah jalan menuju kemajuan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan, kesejahteraan, dan stabilitas ekonomi. Menghentikan praktik lembur berlebihan dan menggantinya dengan kebijakan yang menghargai manusia sebagai aset utama adalah langkah penting bagi Tiongkok dan negara lain yang masih bergulat dengan tekanan kerja berlebih.
