Ketertinggalan EV Honda di Pasar Global: CEO Mibe Akui Tantangan dari Pabrik Robotik Tiongkok

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, mengakui pada konferensi pers tanggal 28 April 2026 bahwa perusahaan sedang berada dalam posisi tertinggal dalam persaingan kendaraan listrik (EV). Pengakuan ini muncul setelah kunjungan lapangan ke sebuah pabrik EV di Tiongkok yang menampilkan tingkat otomatisasi dan efisiensi produksi yang belum pernah dilihat oleh Honda sebelumnya.

Di fasilitas tersebut hampir tidak ada pekerja manusia di lantai produksi; seluruh rangkaian mulai dari pengadaan komponen, perakatan, hingga manajemen logistik dijalankan oleh sistem robotik terintegrasi. “Kami tidak punya peluang untuk melawan ini,” ujar Mibe, menekankan bahwa teknologi manufaktur Tiongkok kini melampaui standar Barat.

Baca juga:

Selama dekade terakhir, Honda mengandalkan keunggulan mesin pembakaran internal dan reputasi kualitas. Namun, perubahan kebijakan di Amerika Serikat pada pertengahan 2025—penghapusan insentif pajak untuk EV—menyebabkan penurunan tajam dalam permintaan konsumen di pasar terbesar dunia. Ford dan General Motors melaporkan kerugian bertahap, sementara Honda mencatat kerugian tahunan pertama sebesar 15,7 miliar dolar AS, setara dengan sekitar 270,7 triliun rupiah.

Kerugian tersebut dipicu tiga faktor utama: penurunan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil, biaya investasi tinggi untuk beralih ke produksi EV, dan ketidakpastian regulasi di pasar utama. Mibe menegaskan bahwa meski kebijakan AS memperlambat transisi global, Honda tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mengurangi emisi karbon dan berkontribusi pada penurunan suhu global.

  • Otomatisasi Tiongkok: Pabrik EV Tiongkok mengoperasikan lebih dari 1.200 robot produksi per jam, dengan tingkat kecacatan kurang dari 0,2%.
  • Kebijakan AS: Penghapusan insentif pajak EV menurunkan permintaan konsumen sebesar 12% pada kuartal pertama 2026.
  • Kerugian Honda: 15,7 miliar dolar AS, setara Rp 270,7 triliun, mencatat defisit terbesar sejak pendirian perusahaan.

Strategi pemulihan Honda ke depan berfokus pada tiga langkah utama. Pertama, meningkatkan investasi di pusat riset dan pengembangan (R&D) di Jepang dan Amerika Utara, dengan alokasi dana sebesar 2,5 miliar dolar AS untuk pengembangan baterai solid‑state. Kedua, membentuk aliansi strategis dengan pemasok komponen elektronik asal Korea Selatan untuk mempercepat rantai pasok. Ketiga, meluncurkan serangkaian model EV menengah‑harga pada akhir 2027, khusus ditujukan untuk pasar Asia Tenggara dan Amerika Latin, dimana insentif pemerintah masih relatif kuat.

Selain itu, Honda berkomitmen mengoptimalkan proses produksi yang ada melalui adopsi teknologi digital twins dan sistem manufaktur berbasis kecerdasan buatan (AI). Pendekatan ini diharapkan dapat menutup kesenjangan kecepatan produksi antara Honda dan kompetitor Tiongkok dalam jangka menengah.

Para analis industri menilai pengakuan resmi tentang ketertinggalan EV Honda dapat menjadi katalisator bagi perubahan struktural dalam industri otomotif Barat. Mereka memperkirakan perusahaan-perusahaan lain yang masih bergantung pada teknologi tradisional akan mengikuti jejak Honda dalam mempercepat transformasi digital.

Mibe menutup pernyataannya dengan optimisme, menegaskan bahwa Honda akan bangkit kembali dengan inovasi yang lebih cepat, lebih bersih, dan lebih terjangkau bagi konsumen di seluruh dunia. Dengan langkah konkret dan investasi strategis, perusahaan berharap dapat mengembalikan posisinya di puncak kompetisi otomotif global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *