Nenek Sofiah, Guru Mengaji yang Menabung di Bawah Kasur Selama 50 Tahun Akhirnya Naik Haji

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Di sebuah rumah sederhana di Kediri, seorang perempuan berusia tujuh puluh lima tahun yang dikenal sebagai Nenek Sofiah telah menorehkan kisah luar biasa. Selama lima dekade, ia menyimpan setiap sisa penghasilan dari mengajar mengaji di sebuah kaleng plastik yang ia sembunyikan di bawah kasur. Dengan tekad dan keimanan yang kuat, tabungan receh itu kini menjadi tiket menuju Tanah Suci, menandai pencapaian spiritual yang tak terduga bagi seorang guru honorer.

Sejak muda, Sofiah mengabdikan diri mengajar Al‑Qur’an kepada anak‑anak lingkungan sekitar. Gaji yang ia terima hanya cukup untuk menutupi kebutuhan dasar, sehingga ia harus cermat dalam mengatur keuangan. Setiap hari setelah mengajar, ia mengumpulkan uang receh—dari hasil penjualan bubur, bantuan tetangga, hingga sumbangan murid—dan menaruhnya dalam sebuah kaleng bekas yang ia letakkan di sela-sela kasur. Selama lima puluh tahun, kaleng itu menjadi saksi bisu perjuangan ekonominya.

Baca juga:

Praktik menabung di bawah kasur bukan sekadar kebiasaan, melainkan strategi menghindari godaan pemborosan. Sofiah mengingat, “Jika uang diletakkan di tempat terbuka, mudah tergoda untuk membeli barang yang tidak penting. Di bawah kasur, uang tetap aman dan terjaga dari godaan.” Pendekatan sederhana ini ternyata berhasil menumpuk sejumlah uang yang cukup untuk menutupi biaya pendaftaran haji, termasuk biaya akomodasi dan transportasi.

Sebagai guru mengaji, Sofiah tidak hanya mengajarkan bacaan Al‑Qur’an, melainkan juga menanamkan nilai keikhlasan dan kerja keras pada murid‑muridnya. Ia mencontohkan bahwa keimanan dapat diwujudkan melalui usaha nyata, bukan sekadar doa belaka. Ketika ia akhirnya mengumumkan rencananya untuk menunaikan ibadah haji, banyak murid dan warga setempat yang terharu. “Nenek Sofiah adalah bukti bahwa dengan niat dan konsistensi, tidak ada yang mustahil,” ujar salah satu murid seniornya.

Kisah Sofiah mengingatkan pada cerita serupa dari berbagai daerah di Indonesia. Contohnya, Abdul Malik Syaiful, seorang guru honorer di Malang, yang menabung selama sebelas tahun dengan menaruh receh dalam kaleng biskuit. Atau Nenek penjual bubur di Kediri yang menabung selama lima puluh tahun sebelum berangkat haji. Semua contoh menunjukkan pola yang sama: ketekunan, pengorbanan, dan kepercayaan kepada Allah.

Proses menyiapkan diri untuk haji tidak hanya bersifat finansial. Sofiah harus menyiapkan dokumen, mengikuti pelatihan haji, dan menjaga kesehatan fisik. Ia menjalani pemeriksaan medis, memperbaiki kebugaran melalui jalan kaki, dan menambah pengetahuan tentang tata cara ibadah haji. Selama masa persiapan, ia tetap mengajar, namun jam mengajarnya dipangkas untuk memberi ruang pada proses administratif.

Pada bulan Agustus 2026, Sofiah berangkat bersama rombongan haji dari Surabaya. Saat menatap pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci, ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. “Setiap tetes keringat, setiap malam yang gelap di bawah kasur, semua itu terbayar ketika saya berdiri di depan Ka’bah,” ujarnya dengan mata berkilau.

Kisah Nenek Sofiah kini menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kediri dan sekitarnya. Ia mengajarkan bahwa menabung, sekecil apapun, bila dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan signifikan. Di tengah tantangan ekonomi yang kerap kali membatasi, semangatnya menjadi contoh nyata bahwa iman yang kuat dipadukan dengan usaha nyata dapat membuka pintu harapan.

Keberangkatan Sofiah juga menimbulkan diskusi tentang pentingnya pendidikan keuangan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Lembaga keagamaan dan pemerintah daerah mulai memperhatikan kebutuhan pelatihan menabung bagi pekerja informal, dengan harapan lebih banyak warga dapat meraih impian spiritual mereka tanpa terbebani hutang.

Dengan menunaikan haji, Nenek Sofiah tidak hanya memenuhi panggilan agama, tetapi juga menegaskan bahwa setiap individu, tidak peduli latar belakang ekonomi, memiliki hak untuk menggapai tujuan spiritual. Perjalanannya dari sebuah kaleng di bawah kasur menuju Ka’bah menjadi bukti konkret bahwa kesabaran dan ketekunan adalah kunci utama dalam mengatasi keterbatasan.

Semoga kisah Nenek Sofiah terus menginspirasi dan mendorong lebih banyak orang untuk menabung, belajar, dan beribadah dengan penuh keikhlasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *