Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka suara terkait lonjakan biaya proyek kereta cepat Jakarta‑Bandung (Whoosh) yang kini menjadi sorotan publik. Dalam konferensi pers di Hotel Ayana Midplaza, Purbaya menegaskan bahwa penyebab utama cost overrun Whoosh terletak pada lambatnya proses pembebasan lahan dan koordinasi antar lembaga yang tidak efektif.
Menurut Purbaya, selama dua tahun pertama pembangunan, hanya sekitar empat kilometer lahan yang berhasil dibebaskan, jauh di bawah target yang telah disepakati dengan mitra China. Keterlambatan ini menimbulkan penundaan signifikan dalam tahapan konstruksi, memperparah kebutuhan dana operasional dan memicu penambahan anggaran secara berulang.
“Kami menerima keluhan langsung dari pihak China mengenai progres yang stagnan. Tanpa kepastian siapa yang mengawal proyek pada tahap awal, koordinasi menjadi “ping‑pong” antar Kementerian BUMN, Kementerian PUPR, dan lembaga terkait lainnya,” ungkap Purbaya.
Ia menambahkan bahwa proyek Whoosh tidak hanya menghadapi tantangan pembebasan lahan, melainkan juga kurangnya pengawasan yang sistematis. “Banyak program infrastruktur besar tidak dimonitor secara real‑time, sehingga ketika muncul masalah tidak ada mekanisme penanganan yang cepat,” tegasnya.
Berikut beberapa faktor utama yang disebutkan Purbaya sebagai pemicu cost overrun Whoosh:
- Lambatnya proses pembebasan lahan karena prosedur birokrasi yang berlapis.
- Koordinasi antarlembaga yang tidak terstruktur, menyebabkan keputusan tertunda.
- Kurangnya pemantauan dan reporting yang terintegrasi pada tahap eksekusi.
- Risiko finansial yang belum terkelola secara optimal antara Indonesia dan China.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Purbaya menyoroti langkah‑langkah restrukturisasi utang yang telah selesai dibicarakan dengan Menteri Keuangan China. Ia menegaskan bahwa semua pihak, termasuk pemerintah Indonesia, China, dan investor, akan menanggung risiko secara proporsional.
“Kami sudah bertemu dengan Menteri Keuangan China di Amerika Serikat dan menyepakati skema pembayaran utang yang akan diumumkan resmi oleh Menteri Koordinator Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),” kata Purbaya. “Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia di mata internasional.
Purbaya juga menekankan pentingnya pembentukan unit khusus yang bertugas mengawal proyek‑proyek infrastruktur strategis. Unit ini diharapkan menjadi satu titik kontak yang jelas bagi semua pemangku kepentingan, menghindari kebingungan yang pernah dialami selama fase awal Whoosh.
“Ke depan, proyek‑proyek besar harus dijalankan dengan disiplin, cepat, dan terukur. Koordinasi yang solid mulai dari pusat hingga daerah serta pemantauan berbasis real‑time menjadi kunci keberhasilan,” ujar Purbaya.
Selain itu, Menteri Keuangan menegaskan bahwa restrukturisasi utang Whoosh sudah rampung dan menunggu pengumuman resmi. Ia menolak memberikan detail skema pembayaran, namun menekankan bahwa Indonesia tidak akan melanggar komitmen yang telah disepakati, sehingga mitra China tidak perlu khawatir.
Pengakuan terbuka Purbaya mengenai cost overrun Whoosh diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dalam mengelola proyek infrastruktur masa depan, terutama yang melibatkan investasi asing. Dengan penataan kembali mekanisme koordinasi dan pengawasan, diharapkan beban biaya tidak akan kembali mengalami pembengkakan yang signifikan.
