Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 April 2026 | Korea Selatan terus menjadi sumber inovasi dalam genre horor, terutama ketika pembuat film menggali kisah‑kisah yang telah beredar di antara warga selama bertahun‑tahun. Tiga judul terbaru—The Mimic (2017), Gonjiam: Haunted Asylum (2018), dan Salmokji: Whispering Water (2026)—menunjukkan bagaimana film Korea urban legend dapat mengubah legenda menjadi pengalaman sinematis yang memukau.
Film pertama yang masuk dalam daftar, The Mimic, mengangkat legenda Jangsanbeom, makhluk berbulu putih berteknik meniru suara manusia untuk memancing korban. Menurut cerita rakyat, Jangsanbeom mengintai kawasan pegunungan Busan dan meniru teriakan atau suara anak untuk menjerumuskan orang ke dalam perangkap. Dalam versi layar lebar, Yum Jung Ah berperan sebagai ibu rumah tangga yang harus melindungi keluarganya dari kehadiran sosok misterius yang menyerupai anak mereka yang telah meninggal. Pendekatan visual yang menekankan suara-suara berulang dan pencahayaan redup berhasil menumbuhkan ketegangan yang terasa menempel pada penonton.
Kedua, Gonjiam: Haunted Asylum menelusuri kisah kelam Rumah Sakit Jiwa Gonjiam di Gwangju. Urban legend setempat menyebutkan bahwa rumah sakit ditutup secara mendadak pada awal 1990‑an setelah terungkapnya praktik penyiksaan pasien oleh staf medis. Film menampilkan tim YouTuber yang bernama “Horror Times” yang berani menjelajah bangunan terbengkalai tersebut demi menambah jumlah penonton. Saat mereka melakukan siaran langsung, teror tak berwujud mulai menyerang, menguji batas keberanian mereka. Versi remake Indonesia yang dijadwalkan rilis pada Juli 2026, berjudul 402: Rumah Sakit Angker Korea, menambah dimensi lintas budaya terhadap legenda yang sama.
Film ketiga, Salmokji: Whispering Water, merupakan yang paling baru, dirilis pada 8 April 2026 dan dibintangi oleh Kim Hye Yoon. Film ini berakar pada urban legend Waduk Salmokji di Yesan‑gun, sebuah danau yang konon menjadi titik pertemuan manusia dengan entitas tak terlihat. Cerita mengikuti tim produksi yang dipimpin oleh karakter Soo In (Kim Hye Yoon), yang kembali ke lokasi setelah menemukan distorsi visual pada rekaman street view sebelumnya. Ketika mereka mencoba mengungkap sumber gangguan, tim terjebak dalam dimensi mistis yang mengungkap rahasia kelam waduk tersebut. Penggambaran visual air yang berbisik dan kabut tebal menjadi metafora bagi ketakutan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.
Ketiga film tersebut tidak hanya mengandalkan jumpscare, melainkan juga menekankan unsur budaya lokal yang membuatnya lebih otentik. Penggunaan lokasi nyata—dari gunung Jang hingga rumah sakit Gonjiam—menambah rasa realisme, sementara legenda yang telah beredar selama puluhan tahun memberikan kedalaman naratif. Hal ini sejalan dengan tren film horor Indonesia, seperti Songko, yang berupaya mengangkat cerita daerah melalui riset budaya dan kolaborasi dengan talenta lokal.
- The Mimic: Mengangkat legenda Jangsanbeom, menyoroti kemampuan makhluk meniru suara manusia.
- Gonjiam: Haunted Asylum: Menggali kisah kelam Rumah Sakit Jiwa Gonjiam, memadukan teknologi modern (YouTube) dengan tradisi horor.
- Salmokji: Whispering Water: Menyentuh urban legend Waduk Salmokji, menampilkan konflik antara manusia dan dunia mistis.
Respons penonton terhadap ketiga judul ini menunjukkan bahwa keaslian legenda lokal menjadi daya tarik utama. Penonton tidak hanya mencari teror sesaat, melainkan keinginan untuk menyelami akar budaya yang menginspirasi ketakutan tersebut. Dengan produksi yang menggabungkan efek visual canggih dan riset folklore yang mendalam, film Korea urban legend berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang menegangkan sekaligus edukatif.
Ke depan, industri film Korea diperkirakan akan terus menggali sumber inspirasi serupa, mengingat keberhasilan komersial dan kritis yang diraih oleh ketiga film tersebut. Sementara itu, remake Indonesia dari Gonjiam menandai era kolaborasi lintas negara dalam menghidupkan kembali cerita-cerita yang telah menjadi bagian dari kolektif memori masyarakat Asia.
Kesimpulannya, The Mimic, Gonjiam: Haunted Asylum, dan Salmokji: Whispering Water tidak hanya membuktikan kekuatan narasi urban legend, tetapi juga menegaskan bahwa horor berakar budaya tetap relevan di era digital.
