Siswa Sekolah Rakyat Bantar Gebang Bangkit dari Putus Sekolah, Kini Targetkan Kampus Global Terdepan

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 April 2026 | Di sebuah gang sempit Bantar Gebang, Jakarta Utara, Ibrahim Ramadan mengukir jejak baru setelah sempat terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Kini, dengan dukungan program Sekolah Rakyat, ia menatap mimpi menembus universitas bergengsi dunia, menjadikan kisahnya simbol harapan bagi ribuan anak serupa.

Ibrahim, anak kuli bangunan, kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan formal pada usia 14 tahun. Tanpa beasiswa atau bantuan, ia hampir terjerumus ke dunia kerja informal. Pada 2025, ia terpilih masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, sebuah inisiatif pemerintah yang menargetkan anak-anak desil 1 dan 2. Di sana, ia menemukan struktur belajar berasrama yang menuntut kedisiplinan, namun memberikan peluang baru.

Baca juga:

Menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, para siswa Sekolah Rakyat kini lebih percaya diri, disiplin, dan memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan. “Mereka sudah memiliki minat dan tekad di bidang tertentu,” ujar Gus Ipul dalam kunjungan kerja ke SRMA 26 pada 18 April 2026. Pernyataan itu mencerminkan perubahan signifikan yang dirasakan Ibrahim sejak memasuki asrama, di mana pagi hari difokuskan pada pembelajaran formal lewat Learning Management System (LMS), sementara sore hingga malam diisi pendampingan karakter oleh wali asrama.

Rutinitas harian Ibrahim mencakup bangun pukul 05.30, mengikuti kelas daring matematika, fisika, dan bahasa Inggris, lalu berpartisipasi dalam sesi mentoring tentang persiapan ujian masuk universitas (SAT, ACT). Di sore hari, ia terlibat dalam program pengembangan kepemimpinan, kegiatan olahraga, serta kegiatan keagamaan yang menekankan nilai-nilai kebangsaan. Sistem ini dirancang untuk menumbuhkan karakter kuat, rasa cinta ilmu, dan kesadaran akan kontribusi sosial.

Berbekal akses internet dan modul LMS, Ibrahim berhasil meningkatkan nilai bahasa Inggrisnya dari skor 45 menjadi 78 dalam enam bulan. Ia pun berhasil meraih juara kedua lomba debat tingkat provinsi, sebuah pencapaian yang menambah keyakinannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. “Saya ingin menjadi agen perubahan bagi keluarga dan bangsa,” kata Ibrahim dalam wawancara di asrama, menegaskan tekadnya untuk melanjutkan ke universitas top seperti Harvard, Oxford, atau MIT.

Program Sekolah Rakyat memberikan rangkaian dukungan yang meliputi:

  • Beasiswa penuh biaya pendidikan dan asrama selama tiga tahun.
  • Mentoring akademik oleh dosen universitas mitra.
  • Pelatihan bahasa Inggris intensif dan persiapan tes masuk universitas global.
  • Pengembangan soft skill melalui proyek komunitas dan kegiatan ekstrakurikuler.
  • Jalur penempatan kerja terampil bagi yang tidak melanjutkan kuliah.

Namun, tantangan tetap ada. Keterbatasan ekonomi keluarga Ibrahim membuatnya harus menanggung biaya transportasi ke kampus asrama dan kebutuhan pribadi. Emosional, ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan berasrama yang jauh dari keluarga. Pemerintah, melalui departemen Kementerian Sosial, menyiapkan dana tambahan serta program konseling psikologis untuk membantu siswa mengatasi stres.

Prestasi akademik Ibrahim kini menjadi bukti nyata efektivitas program. Nilai rata-rata semester terakhirnya mencapai 8,7, dan ia berhasil menembus seleksi beasiswa internasional yang menutup 10% kuota pelamar. Dukungan dari guru wali kelas, Andi Ernawati, serta pemantauan rutin Gus Ipul, memberi rasa aman bagi Ibrahim untuk terus melangkah.

Ke depan, Ibrahim berencana mengikuti tes TOEFL dan SAT pada akhir 2026, lalu mengajukan aplikasi ke universitas di Amerika Serikat dan Eropa. Ia juga berkomitmen untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi, guna mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam program pengembangan ekonomi mikro di Bantar Gebang.

Kisah Ibrahim Ramadan menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat tidak hanya memberi pendidikan formal, tetapi juga membuka pintu ke peluang global bagi mereka yang sebelumnya terpinggirkan. Dengan disiplin, pendampingan karakter, dan dukungan pemerintah, seorang mantan putus sekolah kini berada selangkah lebih dekat menembus kampus top dunia, sekaligus menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *