Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 04 Agustus 2026 | Krisis besar tengah melanda FIFA setelah rencana privatisasi Piala Dunia yang digagas oleh Presiden Gianni Infantino gagal. Rencana tersebut, yang bernilai sekitar $20 miliar, bertujuan untuk menjual sekitar 20% saham FIFA kepada investor swasta dan berpotensi mengumpulkan dana sebesar $4,2 miliar dari pendapatan yang terkait dengan kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
UEFA, Concacaf, dan beberapa bagian dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menentang rencana tersebut karena dianggap kurang transparan dan tidak melibatkan konsultasi yang memadai. Mereka juga khawatir bahwa rencana tersebut dapat membahayakan integritas kompetisi Piala Dunia.
Setelah rencana tersebut gagal, UEFA memutuskan untuk tidak mendukung Infantino dalam pemilihan presiden FIFA berikutnya. Bahkan, UEFA mengancam akan mengambil tindakan hukum jika Infantino tidak mundur dari jabatannya. UEFA juga mempertimbangkan untuk membuat kompetisi sepak bola alternatif jika Infantino tetap menjabat.
Sementara itu, Presiden Concacaf, Victor Montagliani, dianggap sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Infantino. Montagliani telah menunjukkan kepemimpinannya dalam menentang rencana privatisasi Piala Dunia dan memiliki dukungan dari beberapa konfederasi sepak bola lainnya.
Krisis ini dapat membahayakan keberlangsungan FIFA dan Piala Dunia. Oleh karena itu, penting bagi FIFA untuk menemukan solusi yang tepat dan transparan untuk mengatasi krisis ini.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa federasi sepak bola nasional telah memutuskan untuk tidak mendukung Infantino dalam pemilihan presiden FIFA berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pada Infantino untuk mundur dari jabatannya semakin besar.
Untuk mengatasi krisis ini, FIFA perlu melakukan reformasi yang signifikan dan transparan. Ini termasuk memperbaiki struktur kepengurusan, meningkatkan transparansi keuangan, dan memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan pada kepentingan sepak bola dunia, bukan hanya kepentingan beberapa individu atau kelompok.
Dalam kesimpulan, krisis FIFA yang disebabkan oleh rencana privatisasi Piala Dunia yang gagal telah menciptakan ketidakstabilan besar dalam dunia sepak bola. Penting bagi FIFA untuk menemukan solusi yang tepat dan transparan untuk mengatasi krisis ini dan memastikan keberlangsungan sepak bola dunia.
