Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 02 Agustus 2026 | Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, baru-baru ini membuka suara tentang keterlambatan laporan keuangan Danantara. Menurutnya, proses penyusunan laporan keuangan tersebut masih berlangsung dan membutuhkan waktu lama karena untuk pertama kalinya seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dihimpun dan disusun dalam satu laporan keuangan konsolidasi.
Dony menjelaskan bahwa proses eliminasi transaksi antarperseroan dalam grup BUMN harus dilakukan secara terperinci. Oleh sebab itu, penyusunannya membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi. “Ada Pertamina, Mandiri, PLN. Ini nanti akan terjadi proses eliminasi karena asetnya tercatat masing-masing tadinya kan. Karena dia terkonsolidasi makanya terjadi proses eliminasi. Mungkin orang keuangan tentu memahaminya. Nah inilah prosesnya, tentu membutuhkan waktu lama,” terang Dony.
Menurut Dony, masyarakat sejatinya masih bisa memantau laporan keuangan dari masing-masing BUMN secara terpisah. Namun, bagi Danantara sendiri, proses konsolidasi menyeluruh memang memakan waktu yang jauh lebih panjang. “Bisa dibayangkan, seribu BUMN masing-masing tereliminasi. Ada transaksi Pertamina dengan Mandiri, transaksi Pertamina misalkan dengan PLN. Nah ini karena dia konsolidasi report menjadi tereliminasi,” papar Dony.
Kendati membutuhkan waktu lama, Dony menjamin bahwa seluruh proses laporan keuangan dilakukan secara transparan sehingga nantinya dapat diakses dan diawasi oleh publik. “Pada dasarnya semuanya akan sangat transparan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap dia.
Saat ini, lanjut Dony, laporan keuangan Danantara sedang memasuki tahap praaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum akhirnya dipublikasikan secara resmi. Dony juga menegaskan bahwa Danantara sedang membereskan berbagai masalah luar biasa besar di perusahaan BUMN, termasuk utang proyek kereta cepat yang menjadi beban di PT Kereta Api Indonesia dan PT Wijaya Karya.
Dony Oskaria juga menyatakan bahwa Danantara akan menyelesaikan beban utang proyek kereta cepat yang ditanggung oleh PT Kereta Api Indonesia dan PT Wijaya Karya. Pemerintah berkomitmen untuk tidak mendiamkan tekanan keuangan pada BUMN tersebut agar seluruh penataan kembali menjadi benar serta proper.
Dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Danantara diwakili langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Rosan Roeslani dan Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kehadiran Danantara dalam rapat ini sebagai penentu kebijakan stabilitas keuangan nasional tersebut berkapasitas sebagai pihak undangan.
Dony Oskaria juga mengungkapkan bahwa proses penyusunan laporan keuangan Danantara membutuhkan waktu lama karena melibatkan ratusan hingga ribuan entitas yang memiliki transaksi satu sama lain. Namun, ia memastikan bahwa penyusunan laporan keuangan dilakukan secara transparan dan tidak ada informasi yang ditutup-tutupi.
Di akhir, Dony Oskaria menegaskan bahwa Danantara berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai masalah luar biasa besar di perusahaan BUMN dan memastikan bahwa proses laporan keuangan dilakukan secara transparan. Dengan demikian, diharapkan Danantara dapat membantu meningkatkan stabilitas keuangan nasional dan memajukan pembangunan ekonomi Indonesia.
