Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 24 Juli 2026 | Pemerintah telah merealisasikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 116 triliun hingga akhir Semester I 2026. Penyaluran subsidi tersebut sejalan dengan meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi di tengah gejolak harga energi global.
Volume penyaluran BBM bersubsidi mencapai 7,99 juta kiloliter (KL), meningkat 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 7,41 juta KL. Sementara itu, jumlah pelanggan listrik bersubsidi juga meningkat menjadi 43,1 juta pelanggan, atau tumbuh 2,1% secara tahunan.
Di sektor nonenergi, realisasi subsidi pupuk turut meningkat. Volume pupuk bersubsidi yang telah disalurkan mencapai 4,5 juta ton, melonjak 21,4% dibandingkan Semester I tahun lalu sebesar 3,7 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang penurunan harga minyak nonsubsidi apabila tren harga minyak mentah dunia terus melemah. Menurut Bahlil, pemerintah tengah menghitung dampak pergerakan harga minyak dunia dan akan segera menggelar rapat bersama PT Pertamina (Persero) serta badan usaha penyedia BBM lainnya untuk membahas kemungkinan penyesuaian harga.
Pemerintah tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan karena harga minyak mentah Indonesia (ICP) maupun harga minyak dunia masih berfluktuasi. Bahlil menegaskan kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlangsungan usaha pelaku industri migas.
Pasokan energi nasional dipastikan aman hingga akhir tahun. Pemerintah juga memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik sama sekali.
Kesimpulan dari seluruh informasi ini adalah bahwa pemerintah sedang berusaha untuk mengontrol harga BBM dan memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Dengan demikian, masyarakat dapat merasa tenang dan tidak perlu khawatir tentang kenaikan harga BBM yang tidak terkendali.
