Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Hari kedua pelaksanaan blokade maritim oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz menyaksikan aksi dramatis: sebuah kapal tanker berlayar dari Tiongkok berhasil menembus barikade militer AS dan keluar dari kawasan Teluk. Kapal bernama Ridge Terry, yang sebelumnya terdaftar dalam daftar sanksi Washington, menjadi kapal pertama yang melintasi Selat Hormuz sejak blokade dimulai pada 14 April 2026. Keberhasilan ini menambah ketegangan di sebuah jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade tersebut merupakan respons tegas atas apa yang ia sebut sebagai tindakan pemerasan Iran terhadap kapal-kapal internasional. Trump bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal militer Iran yang mendekati armada AS akan dihancurkan tanpa ampun. Sementara itu, pernyataan resmi militer CENTCOM mengklaim bahwa blokade yang diterapkan bersifat selektif dan bertujuan melindungi kepentingan keamanan regional, tanpa menutup seluruh lalu lintas komersial.
Pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan protes keras, menilai tindakan AS berbahaya, tidak bertanggung jawab, serta melanggar hak berlayar bebas di Selat Hormuz yang berada di bawah yurisdiksi Iran dan Oman. Dalam sebuah pernyataan diplomatik, Tiongkok menekankan pentingnya jalur pelayaran global yang aman dan menyerukan kepada Washington untuk menghormati kedaulatan Iran serta menahan tindakan sepihak yang dapat mengguncang stabilitas pasar energi internasional.
Di sisi lain, pada hari yang sama, Presiden Xi Jinping menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, di Beijing. Kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama strategis antara Tiongkok dan Rusia, menyoroti peran aliansi Moskow‑Beijing sebagai penyeimbang kekuatan di tengah gejolak global. Lavrov menekankan bahwa kemitraan ini berkontribusi pada stabilitas internasional, sementara Xi menambahkan bahwa koordinasi kedua negara akan terus ditingkatkan untuk melindungi kepentingan nasional masing‑masing serta mendukung negara‑negara berkembang.
Kerja sama strategis tersebut mencakup sektor energi, pertahanan, serta teknologi tinggi. Kedua negara sepakat memperluas pasokan energi, termasuk gas alam cair, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi dinamika pasokan di Selat Hormuz. Analisis para pakar menunjukkan bahwa peningkatan aliansi Tiongkok‑Rusia dapat menurunkan ketergantungan negara‑negara Barat pada jalur pelayaran yang dikuasai AS, sekaligus memberi ruang bagi Tehran untuk memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi energi.
Sementara peristiwa geopolitik mendominasi pemberitaan, budaya Tiongkok muncul dalam bentuk ramalan astrologi shio yang dipublikasikan pada 16 April 2026. Tiga shio—Ayam, Kelinci, dan Naga—diprediksi mengalami keberuntungan finansial yang signifikan pada hari itu, seiring dengan energi positif yang diyakini memengaruhi keputusan investasi dan perdagangan. Meskipun tidak berhubungan langsung dengan krisis Hormuz, ramalan ini mencerminkan bagaimana persepsi ekonomi dalam budaya Tiongkok dapat berbaur dengan dinamika politik internasional.
Pasar minyak global merespons kombinasi faktor tersebut dengan fluktuasi harga yang tajam. Beberapa analis mencatat bahwa keberhasilan Ridge Terry menembus blokade dapat menjadi sinyal bagi pedagang bahwa tekanan AS belum sepenuhnya mengendalikan aliran energi. Di sisi lain, pernyataan dukungan Tiongkok‑Rusia menambah lapisan ketidakpastian, mengingat kedua negara berpotensi menawarkan alternatif jalur logistik dan sumber energi bagi negara‑negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada pasar Barat.
Secara keseluruhan, peristiwa di Selat Hormuz memperlihatkan persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan aliansi Tiongkok‑Rusia, dengan implikasi yang meluas ke pasar energi, keamanan maritim, dan stabilitas geopolitik. Keberhasilan tanker Tiongkok menembus blokade serta diplomasi aktif Beijing menandai titik balik dalam upaya menjaga kebebasan pelayaran dan menegaskan posisi Tiongkok sebagai pemain kunci dalam tata dunia yang semakin multipolar.
