Jordy Tutuarima Ungkap Gaji Terlambat di Persis Solo, Dari Mimpi Timnas Hingga Krisis Finansial

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 16 April 2026 | Jordy Tutuarima, gelandang tengah kelahiran Maluku yang kini memperkuat Persis Solo, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan masalah gaji yang belum dibayar selama tiga bulan terakhir. Dalam sebuah wawancara eksklusif, pemain berusia 27 tahun itu menyebutkan bahwa penundaan pembayaran gaji bukan hanya menambah beban finansial, tetapi juga menguji ketahanan mentalnya sebagai atlet profesional.

Karier Tutuarima dimulai di klub-klub lokal sebelum ia menembus Liga 1 pada musim 2022 bersama PSBS Biak. Selama masa itu, ia pernah menulis surat kepada PSSI bersama rekan-rekannya untuk menuntut penyelesaian gaji yang tertunda. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya, terutama ketika ia kemudian menandatangani kontrak dengan Persis Solo pada awal tahun 2025.

Baca juga:

“Saya menandatangani kontrak dengan harapan dapat memberi kontribusi maksimal bagi Persis dan sekaligus mewujudkan mimpi bermain untuk timnas Indonesia,” ujar Jordj dalam percakapan yang berlangsung di fasilitas klub. “Namun, ketika gaji tidak kunjung cair, hal itu mempengaruhi fokus saya di lapangan. Saya tetap berusaha, tetapi realita kehidupan sehari-hari menjadi lebih sulit.”

Menurut data internal klub, sejumlah pemain senior mengalami penundaan pembayaran yang beragam, mulai dari dua setengah bulan hingga tiga bulan. Kondisi ini sejalan dengan keluhan yang pernah dilontarkan oleh pemain PSBS Biak pada 2026 lalu, yang juga menuliskan surat kepada manajemen klub, operator liga iLeague, dan PSSI. Kedua kasus tersebut menegaskan adanya pola permasalahan keuangan di beberapa klub Liga 1 dan Liga 2 Indonesia.

Jordy menambahkan bahwa selain menunggu gaji, ia dan rekan-rekan harus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas. “Ada kalanya kami tidak mendapatkan air minum bersih setelah sesi latihan, dan akomodasi bagi pemain asing bahkan harus dikosongkan karena tidak ada dana untuk membayar sewa,” katanya. “Situasi ini tidak hanya mengganggu kondisi fisik, tetapi juga menurunkan moral tim secara keseluruhan.”

Meski demikian, Tutuarima menegaskan komitmennya untuk tetap profesional. Ia menyatakan bahwa surat yang ia kirimkan kepada manajemen Persis Solo tidak dimaksudkan untuk menimbulkan konflik, melainkan sebagai upaya mencari solusi yang adil dan konstruktif. “Kami menghormati klub, operator liga, serta federasi. Kami hanya berharap ada klarifikasi dan penyelesaian secepatnya,” ujarnya.

Berbicara tentang ambisinya di timnas, Jordy mengingat kembali masa kecilnya ketika ia sering menonton pertandingan Timnas Indonesia bersama ayahnya. “Saya dulu bermimpi bisa memakai jersey merah putih, berlari di lapangan internasional, dan mengangkat piala untuk bangsa,” ia mengungkapkan dengan mata berkaca‑kaca. “Jika masalah gaji ini tidak segera teratasi, saya khawatir performa saya di klub akan menurun, dan impian itu semakin jauh dari jangkauan.”

Pihak manajemen Persis Solo belum memberikan respons resmi hingga saat penulisan artikel ini. Namun, klub dijanjikan akan melakukan audit internal dan berkoordinasi dengan PSSI serta Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) untuk menyelesaikan tunggakan gaji. Sementara itu, para pemain terus menjalani latihan dengan harapan situasi keuangan akan segera normal.

Kondisi finansial klub tidak hanya mempengaruhi pemain domestik, tetapi juga mengancam keberlangsungan kontrak pemain asing. Beberapa pemain asing dilaporkan telah menerima perintah untuk mengosongkan tempat tinggal mereka karena tidak ada dana untuk membayar sewa. Hal ini menambah tekanan pada klub untuk segera menuntaskan kewajiban pembayaran.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus Jordy Tutuarima dan PSBS Biak menjadi contoh nyata bahwa masalah gaji pemain masih menjadi tantangan serius di sepak bola Indonesia. Penyelesaian yang transparan dan tepat waktu tidak hanya penting bagi kesejahteraan atlet, tetapi juga bagi integritas kompetisi dan kepercayaan publik terhadap liga.

Dengan mengingat kembali mimpi masa kecilnya, Jordy tetap optimis bahwa dukungan publik, federasi, dan manajemen klub akan menghasilkan solusi. Ia menutup pernyataannya dengan harapan, “Semoga kami semua dapat kembali fokus pada permainan, membela kebanggaan klub, dan suatu hari nanti, saya dapat berdiri di lapangan bersama Timnas Indonesia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *