Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 Juli 2026 | Fenomena Rashdul Kiblat kembali terjadi pada 15-17 Juli 2026. Pada momen ini, Matahari akan berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk memverifikasi sekaligus mengkalibrasi arah kiblat dengan tingkat akurasi sangat tinggi.
Menurut data astronomi, Matahari akan melintas tepat di atas Ka’bah pada Rabu (15/7) dan Kamis (16/7) pukul 12.27 Waktu Arab Saudi atau pukul 16.27 WIB. Fenomena ini dikenal dalam ilmu falak sebagai Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari, mengajak masyarakat memanfaatkan fenomena tersebut untuk memastikan kembali arah kiblat di rumah, musala, meunasah, masjid, maupun fasilitas umum lainnya.
Rashdul Kiblat merupakan metode sederhana sekaligus sangat akurat untuk meluruskan arah kiblat. Pengukurannya pun mudah, cukup menggunakan sebuah tiang atau benda yang berdiri tegak lurus dan terkena sinar Matahari pada waktu terjadinya Rashdul Kiblat.
Sejarah berpindahnya kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah juga menjadi bagian penting dalam pemahaman umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2 Hijriah, ketika Rasulullah SAW tengah memimpin salat jamaah di Masjid Qiblatain, Madinah.
Setelah dua rakaat pertama selesai, turunlah wahyu yang memerintahkan menghadap ke arah Ka’bah. Nabi SAW kemudian berputar 180 derajat yang kemudian diikuti seluruh jemaah.
Wahyu yang turun ini adalah surah Al-Baqarah ayat 144. Allah SWT berfirman, قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٤٤
Artinya: ‘Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.’
Untuk melakukan kalibrasi arah kiblat, BMKG menyarankan masyarakat menyiapkan beberapa peralatan sederhana agar hasil pengukuran lebih akurat. Peralatan yang dibutuhkan meliputi tiang atau benda yang berdiri tegak lurus, kertas atau alas untuk menempatkan benda, dan penggaris atau alat untuk menggambar garis lurus.
Pengamatan sebaiknya memenuhi beberapa syarat berikut: dilakukan di tempat yang terbuka dan tidak terhalang, dilakukan pada waktu Rashdul Kiblat, dan dilakukan dengan memastikan tiang atau benda berdiri tegak lurus.
Langkah kalibrasi arah kiblat pada 15-17 Juli 2026 adalah sebagai berikut: pertama, siapkan peralatan yang dibutuhkan. Kedua, tentukan waktu Rashdul Kiblat di daerah masing-masing. Ketiga, letakkan tiang atau benda yang berdiri tegak lurus di tempat yang terbuka. Keempat, gambarlah garis lurus yang menghubungkan ujung bayangan tiang atau benda dengan titik yang diinginkan. Kelima, pastikan garis lurus yang digambar merupakan arah kiblat yang benar.
Dengan melakukan kalibrasi arah kiblat, umat Islam dapat memastikan bahwa mereka menghadap ke arah yang benar saat melaksanakan salat dan ibadah lainnya. Fenomena Rashdul Kiblat merupakan momen langka yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat iman dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghadap ke arah kiblat yang benar.
