Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar secara bersama-sama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi sorotan tidak hanya karena skala pertandingan, tetapi juga karena dinamika politik yang mengelilinginya. Pada April 2026, sejumlah pejabat FIFA mengemukakan niat untuk meminta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghentikan operasi Immigration and Customs Enforcement (ICE) selama 39 hari turnamen, mengingat kekhawatiran akan gangguan keamanan dan citra internasional.
Menurut laporan internal yang disampaikan kepada media, Gianni Infantino, presiden FIFA, diyakini akan memanfaatkan kedekatannya dengan Trump untuk mengajukan permohonan moratorium ICE secara nasional. Awalnya, usulan tersebut hanya mencakup penarikan agen ICE dari zona sekitar 11 kota tuan rumah di Amerika Serikat, namun kemudian diperluas menjadi larangan total di seluruh wilayah negara selama periode Piala Dunia.
Latar belakang permintaan ini terkait dengan aksi keras ICE yang telah menimbulkan kemarahan publik, terutama setelah dua warga Amerika, Renee Good dan Alex Pretty, tewas dalam operasi penegakan imigrasi di Minnesota pada awal tahun ini. Kebijakan imigrasi keras Trump telah menimbulkan protes massal, dan kehadiran agen-agen tersebut di sekitar stadion berpotensi mencoreng citra festival olahraga global.
Pejabat FIFA yang dekat dengan Infantino menyatakan bahwa mereka siap menyusun pernyataan bersama antara FIFA dan Gedung Putih, menyoroti moratorium ICE sebagai “berita positif” bagi kedua belah pihak. Sementara itu, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi, dan para penasihat Trump masih menilai apakah kebijakan ini sejalan dengan agenda utama pemerintahan yang menekankan penegakan imigrasi ketat.
Jika disetujui, langkah ini akan menjadi pengecualian besar dari prioritas kebijakan Trump, yang selama setahun pertamanya menjanjikan deportasi massal terhadap imigran ilegal. Sejumlah pejabat menilai bahwa moratorium selama satu bulan dapat membantu menenangkan kekhawatiran negara-negara peserta, yang mengantisipasi ribuan pendukung internasional akan hadir di stadion-stadion Amerika.
Pada saat yang sama, FIFA harus menghadapi tantangan lain yang bersifat geopolitik. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengajukan permohonan untuk memindahkan grup fase pertama mereka ke Meksiko, mengingat ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi memperburuk keamanan pemain Iran di wilayah AS. FIFA menolak permohonan tersebut dengan alasan logistik yang terlalu rumit serta komitmen pada jadwal yang telah ditetapkan sejak undian.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menegaskan bahwa otoritas sepak bola dunia tidak akan mengubah penetapan tuan rumah bagi tim Iran. Infantino sendiri bertemu secara tertutup dengan perwakilan sepak bola Iran di Turki pada akhir Maret untuk meredam kekhawatiran keamanan dan potensi boikot. Jadwal resmi menempatkan Iran di grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, dengan laga pertama di Los Angeles pada 15 Juni, diikuti pertandingan di Seattle pada 26 Juni.
Keputusan FIFA menunjukkan upaya menyeimbangkan dua kepentingan utama: memastikan keamanan dan kelancaran turnamen serta menjaga netralitas politik. Penegakan keamanan akan melibatkan kolaborasi antara otoritas federal, negara bagian, dan lokal, termasuk penugasan agen keamanan khusus untuk melindungi pemain, ofisial, dan suporter. Sementara itu, permintaan moratorium ICE tetap menjadi topik perdebatan internal antara pejabat olahraga dan lembaga keamanan.
Secara keseluruhan, Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi sepak bola terbesar, tetapi juga arena interaksi antara olahraga, kebijakan imigrasi, dan hubungan internasional. Keputusan FIFA untuk menolak permintaan Iran serta upaya diplomatik untuk menghentikan operasi ICE mencerminkan tantangan kompleks yang harus dihadapi organisasi dalam mempertahankan semangat “FIFA Unites the World” di tengah ketegangan politik global.
