Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Gelandang Uruguay berusia 25 tahun, Manuel Ugarte, semakin dipandang sebagai sosok yang tidak menemukan tempatnya di Old Trafford. Sejak kepindahannya dari Paris Saint-Germain pada musim panas 2024 dengan nilai transaksi sekitar 50,5 juta pound, Ugarte hanya mencatat 69 penampilan, dua gol, dan enam assist. Performa yang jauh di bawah ekspektasi membuatnya masuk dalam daftar pemain yang paling dicari oleh klub-klub yang berjuang menghindari degradasi di Premier League.
Dalam beberapa pekan terakhir, Tottenham Hotspur dan Newcastle United secara terbuka menyatakan minat mereka untuk mengamankan jasa Ugarte pada bursa transfer musim panas mendatang. Tottenham, yang kini berada di tiga posisi terbawah klasemen, berharap tambahan tenaga tengah dapat memperkuat lini tengah mereka yang rapuh. Sementara Newcastle, yang juga berada di zona relegasi, menilai Ugarte sebagai opsi yang dapat menambah kedalaman skuad tanpa mengorbankan anggaran.
Namun, bukan hanya klub Inggris yang mengincar pemain berusia 25 tahun tersebut. Klub Liga Super Turki, Galatasaray, juga disebut-sebut sebagai pihak yang tertarik. Di sisi lain, Ugarte mengungkapkan keinginannya untuk beralih ke Serie A. Juventus, raksasa Italia yang tengah merestrukturisasi skuadnya, menjadi target utama sang gelandang. Laporan internal klub mengonfirmasi bahwa Juventus telah melakukan pendekatan awal dan menilai Ugarte sebagai sosok yang dapat menambah kualitas lini tengah mereka.
Di tengah spekulasi transfer, manajer sementara Manchester United, Michael Carrick, tetap membela Ugarte. Dalam konferensi pers setelah kekalahan 2-1 dari Leeds United, Carrick menilai penampilan Ugarte melawan Leeds cukup memuaskan. \”Saya pikir malam itu adalah pertandingan yang sulit, bukan hanya untuk Manu. Dia melakukan banyak pengawalan agar pemain lain dapat menyerang,\” ujar Carrick. Carrick menekankan bahwa meskipun Ugarte tidak selalu menjadi pilihan utama, ia tetap memberikan kontribusi penting, terutama ketika tim bermain dengan sepuluh pemain.
Namun, pendapat tersebut tidak sejalan dengan mantan pemain Manchester United, Gary Neville. Neville menilai Ugarte sebagai pemain yang \”sangat terbatas pada bola\” sejak kedatangannya. Kritik keras Neville muncul setelah Ugarte ditempatkan di lini tengah bersama Casemiro dalam pertandingan melawan Leeds, yang berakhir dengan kekalahan. Neville berargumen bahwa kombinasi tersebut tidak mampu menguasai bola dengan baik, menambah tekanan pada pertahanan United.
Statistik musim ini menunjukkan bahwa United hanya meraih satu kemenangan dalam sepuluh pertandingan yang melibatkan Ugarte di lini tengah. Penampilan buruk tersebut semakin memperkuat persepsi bahwa Ugarte belum berhasil menyesuaikan diri dengan taktik dan intensitas Premier League. Keputusan Carrick untuk tetap memberi kesempatan pada Ugarte menuai kritik, terutama mengingat banyaknya opsi tengah yang tersedia di pasar transfer.
Dengan tekanan yang terus meningkat, Ugarte tampaknya siap untuk mengambil langkah baru. Pernyataan resmi klub Juventus menyebutkan bahwa mereka tertarik pada Ugarte, namun dengan syarat tertentu, termasuk penyesuaian gaji dan peran utama di lini tengah. Jika kesepakatan tercapai, transfer ke Juventus akan menjadi babak baru bagi karier sang gelandang, sekaligus memberikan Manchester United dana tambahan untuk memperkuat posisi yang lemah.
Secara keseluruhan, situasi Manuel Ugarte mencerminkan dinamika transfer yang kompleks di dunia sepak bola modern. Dari kegagalan menyesuaikan diri di Premier League hingga ketertarikan klub-klub yang berjuang menghindari degradasi, hingga ambisi pribadi untuk bergabung dengan Juventus, semua faktor tersebut akan menentukan nasib pemain Uruguay ini pada akhir musim.
