Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 Juni 2026 | Rupiah mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan perbaikan sentimen pasar. Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, penguatan rupiah didorong oleh kombinasi sentimen domestik yang membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami kenaikan signifikan, dengan rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.794 per dolar AS. Namun, sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga melemah 60 poin.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah tingginya tekanan dan volatilitas pasar keuangan domestik akibat sikap wait and see pelaku pasar. Menurutnya, investor global dan institusi menahan diri sembari menunggu dua keputusan krusial dari MSCI, yaitu status Indonesia di indeks emerging market dan potensi pencabutan pembekuan penambahan konstituen saham baru Indonesia.
Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Juni 2026 sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Kenaikan ini dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026-2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1%.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada 17 Juni 2026 tercatat sebesar Rp17.730 per dolar AS, atau menguat 0,76% (ptp) dibandingkan dengan level akhir Mei 2026. Perkembangan ini dipengaruhi oleh langkah penguatan stabilisasi nilai tukar Bank Indonesia dari dampak tingginya ketidakpastian global dan besarnya permintaan valuta asing korporasi di dalam negeri untuk kegiatan ekonomi.
Bank Indonesia juga memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10% guna semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor. Selain itu, Bank Indonesia memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap Rupiah sejalan dengan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction, LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik. Namun, sentimen eksternal masih membatasi penguatan rupiah, terutama karena dolar AS tetap perkasa setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dan memberi sinyal masih terbuka ruang pengetatan moneter lanjutan pada akhir tahun.
Kesimpulan, penguatan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia dan perbaikan sentimen pasar. Namun, sentimen eksternal masih membatasi penguatan rupiah, terutama karena dolar AS tetap perkasa. Oleh karena itu, Bank Indonesia harus terus memantau perkembangan pasar dan melakukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
