Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 14 April 2026 | Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan peningkatan praktik penyelundupan bahan bakar di wilayah Asia Tenggara menambah beban operasional bagi kapal tanker. Dua peristiwa penting terjadi dalam pekan ini: kapal tanker milik Pertamina yang terpaksa menghindari Selat Hormuz akibat ancaman blokade militer Amerika Serikat, serta penangkapan dua kapal tanker di perairan lepas Pulau Penang, Malaysia, yang diduga melakukan transfer bahan bakar secara ilegal.
Di kawasan Teluk Persia, dua tanker Pertamina, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan sejak akhir Maret 2026. Kedua kapal mengangkut minyak mentah dan produk olahan yang krusial untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Pihak Pertamina, melalui Pjs Corporate Secretary Vega Pita, mengungkapkan bahwa mereka terus berkoordinasi 24/7 dengan Kementerian Luar Negeri untuk mencari solusi diplomatik. Sementara itu, Tugu Insurance menegaskan bahwa asuransi kapal tetap aktif, meski premi sedikit meningkat karena risiko konflik. “Kami menyediakan perlindungan terhadap kerusakan fisik kapal, termasuk serangan drone atau torpedo, tetapi kerugian akibat penundaan pengiriman tidak termasuk dalam cakupan,” kata Adi Pramana, Presiden Direktur Tugu Insurance.
Di sisi lain, otoritas maritim Malaysia (MMEA) berhasil menahan dua kapal tanker yang terhubung satu sama lain di perairan Bagan Ajam, Penang, pada Sabtu, 11 April 2026. Operasi ini mengamankan 22 awak kapal dari enam negara, termasuk Indonesia, Myanmar, Rusia, Filipina, dan Malaysia. Menurut Direktur MMEA Penang, Muhammad Suffi Mohd Ramli, kapal tersebut diduga sedang melakukan praktik ship-to-ship transfer solar Euro 5 tanpa izin, dengan volume sekitar 700.000 liter. Total bahan bakar yang berhasil disita mencapai 800.000 liter, diperkirakan bernilai 5,43 juta ringgit Malaysia (sekitar 1,37 juta dolar AS).
Praktik ship-to-ship ini semakin marak di perairan internasional karena mampu menyamarkan asal usul minyak, sehingga sulit dilacak oleh regulator. Malaysia telah mencatat peningkatan kasus serupa sejak awal tahun 2026, terutama setelah konflik di Timur Tengah memperburuk ketidakpastian pasokan energi. Penangkapan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Malaysia untuk memperketat pengawasan, terutama di wilayah strategis Selat Malaka yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Sementara itu, sorotan juga tertuju pada kesejahteraan awak kapal, khususnya koki di kapal tanker. Gaji koki tanker Indonesia bervariasi tergantung pada jenis rute dan ukuran kapal. Pada rute internasional, kisaran gaji mencapai Rp12 juta hingga lebih dari Rp20 juta per bulan. Untuk kapal domestik atau yang beroperasi di bawah naungan Pertamina, gaji biasanya di atas Rp10 juta. Posisi kepala koki (Chief Cook) atau kontrak internasional dapat memperoleh pendapatan lebih tinggi, mencerminkan risiko kerja yang tinggi serta tanggung jawab menyediakan makanan bergizi bagi kru selama pelayaran panjang.
Berikut ringkasan data penting terkait kedua peristiwa:
- Kapalan Pertamina yang tertahan: VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro; berada di Selat Hormuz; dipantau oleh Tugu Insurance.
- Penangkapan di Penang: Dua tanker tanpa izin; 22 awak kapal (Malaysia, Myanmar, Rusia, Filipina, Indonesia); 700.000 liter solar Euro 5 diperkirakan dipindahkan; nilai penyitaan 5,43 juta ringgit.
- Gaji koki tanker Indonesia: Rp12β20 juta/bulan (internasional); >Rp10 juta (domestik); kepala koki dapat lebih tinggi.
Ketegangan di Selat Hormuz menimbulkan dampak langsung pada rantai pasokan minyak global. Penahanan kapal tanker menghambat aliran minyak mentah ke pasar internasional, sementara praktik ilegal di perairan Asia Tenggara menambah risiko keamanan maritim. Kedua isu ini menuntut koordinasi lintas negara, baik dalam diplomasi politik maupun penegakan hukum maritim.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Indonesia, melalui kementerian terkait, diharapkan dapat memperkuat perlindungan bagi awak kapal nasional, termasuk memperbaiki standar upah dan keselamatan kerja. Di sisi lain, Malaysia perlu meningkatkan kapasitas intelijen maritim untuk mencegah praktik penyelundupan yang dapat merusak reputasi pelabuhan dan menurunkan penerimaan negara.
Secara keseluruhan, situasi kapal tanker saat ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara geopolitik, ekonomi energi, dan keamanan laut. Upaya bersama antara negara-negara produsen, pengguna, serta perusahaan asuransi dan operator kapal menjadi kunci untuk memastikan kelancaran perdagangan minyak serta keselamatan awak kapal di tengah dinamika internasional yang terus berubah.
