Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Dalam sebuah wawancara eksklusif di program televisi Belanda Goedemorgen Eredivisie, bek bekas Ajax Perr Perr Schuurs mengungkapkan pilihannya di antara dua gelandang muda paling berbakat asal Belanda: Ryan Gravenberc h dan Frenkie de Jong. Schuurs, yang pernah berbagi ruang ganti dengan keduanya saat masih berada di akademi Ajax Amsterdam, menegaskan bahwa ia selalu memihak Gravenberch karena kombinasi unik antara tinggi badan, teknik, dan kecerdasan taktis.
Menurut Schuurs, “Ryan Gravenberch, dengan tinggi sekitar 1,88 meter, memiliki teknik yang luar biasa dan selalu melakukan dua kali cek sebelum menerima bola. Ia sudah menunjukkan kualitas itu sejak enam tahun yang lalu, saat masih remaja di Ajax. Keunikan tersebut menjadikannya pemain yang sangat jarang di dunia sepak bola modern.”
Penilaian tersebut menjadi sorotan karena Frenkie de Jong telah mengukir prestasi gemilang di Barcelona, menjadi salah satu gelandang elit Eropa yang konsisten mengendalikan permainan. Namun, Schuurs menekankan bahwa keunggulan Gravenberch terletak pada kemampuannya menggabungkan fisik yang tangguh dengan kontrol bola yang halus, memungkinkan ia beroperasi baik sebagai gelandang bertahan maupun menyerang.
Sejak pindah ke Liverpool pada musim panas 2024, Gravenberch memang menghadapi tantangan menyesuaikan diri dengan intensitas Premier League. Musim pertamanya di Anfield menampilkan penampilan yang mengesankan, termasuk penghargaan Young Player of the Year di Liga Inggris. Meskipun demikian, performanya pada musim 2025/26 kadang tidak konsisten, dengan beberapa pertandingan di mana ia tampak melayang tanpa memberikan kontribusi signifikan bagi lini tengah Liverpool.
Para pengamat menilai bahwa kemampuan Gravenberch dalam mengontrol ruang, menahan tekanan lawan, dan menyalurkan bola dengan akurasi tetap menjadi aset berharga bagi tim. Schuurs menambahkan, “Kesadaran taktis, ketenangan di atas bola, dan kemampuan mempengaruhi jalannya permainan sudah tampak sejak masa mudanya di Ajax, dan ia terus mengasahnya di Liverpool.”
Di sisi lain, De Jong terus menjadi tulang punggung lini tengah Barcelona, membantu klub tersebut meraih gelar La Liga dan mencapai final Liga Champions pada beberapa kesempatan. Gaya permainan De Jong yang lebih mengutamakan pergerakan tanpa bola, distribusi cepat, dan penetrasi ke ruang-ruang sempit menjadikannya sosok yang sangat dibutuhkan oleh tim yang mengedepankan penguasaan bola.
Perdebatan antara kedua pemain ini tidak hanya menjadi bahan diskusi di antara pendukung Ajax, tetapi juga meluas ke komunitas sepak bola internasional. Penggemar Liverpool, misalnya, berharap Gravenberch dapat mengulang performa terbaiknya, sementara pendukung Barcelona menegaskan bahwa De Jong tetap menjadi pilihan utama untuk mengatur permainan mereka.
Selain menyoroti perbandingan individu, Schuurs juga menyinggung peran penting akademi Ajax dalam mencetak talenta berbakat. Sejak era Johan Cruyff, Ajax dikenal sebagai laboratorium pengembangan pemain yang menekankan filosofi total football, mengajarkan pemain untuk menguasai semua aspek permainan. Hal ini terbukti dari banyaknya pemain yang berhasil menembus level tertinggi, termasuk De Jong, Gravenberch, serta nama-nama lain seperti Matthijs de Ligt dan Donny van de Beek.
Keberhasilan akademi tersebut tidak lepas dari sistem pelatihan yang menekankan kebebasan kreativitas, disiplin taktis, serta penanaman nilai sportivitas. Dengan demikian, perbandingan antara dua produk terbaik Ajax ini mencerminkan keberagaman gaya bermain yang dapat dihasilkan oleh satu institusi.
Di tengah spekulasi transfer yang terus bergulir, baik Liverpool maupun Barcelona diperkirakan akan mempertahankan kedua gelandang tersebut untuk musim berikutnya. Liverpool, khususnya, sedang mempertimbangkan penambahan pemain baru di lini tengah untuk mengurangi beban pada Gravenberch, sementara Barcelona berencana memperkuat lini serang guna memberi lebih banyak ruang bagi De Jong beroperasi.
Kesimpulannya, meski Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch memiliki kualitas yang luar biasa, perspektif mantan pemain Ajax Perr Schuurs menyoroti keunikan fisik dan teknik Gravenberch yang membuatnya layak dipertimbangkan sebagai gelandang paling komplet di generasinya. Perdebatan ini tidak hanya memperkaya narasi sepak bola Belanda, tetapi juga menegaskan peran krusial akademi Ajax dalam menghasilkan talenta yang mampu bersaing di panggung global.
