Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Racing Santander kembali menjadi sorotan dalam kompetisi Segunda Divisi Spanyol setelah menorehkan penampilan impresif di paruh pertama musim 2025/2026. Dipimpin oleh pelatih asal Brasil, José Alberto, klub asal Cantabria ini mengadopsi filosofi taktik yang lebih fleksibel dan menyerang, terinspirasi oleh tren terbaru dalam sepak bola Eropa yang menekankan pada “relational play“.
Konsep “relational play” yang dipopulerkan oleh Vincent Kompany di Bayern Munich menekankan pada clustering pemain, pergantian posisi yang cepat, serta kombinasi pendek yang memungkinkan tim mengontrol ruang secara dinamis. Meskipun Kompany belum pernah melatih di Spanyol, ide-idenya telah menyebar ke beberapa pelatih muda di seluruh benua, termasuk José Alberto. Sang pelatih mengadaptasi prinsip‑prinsip tersebut dengan menyesuaikannya pada karakteristik pemainnya, sehingga Racing Santander dapat menampilkan formasi yang lebih agresif, terutama pada fase serangan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Racing Santander menunjukkan peningkatan signifikan dalam statistik menyerang. Tim berhasil mencetak rata‑rata hampir dua gol per pertandingan, sementara tingkat penguasaan bola berada di atas 55 persen. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran pemain kunci seperti penyerang muda Diego González yang sering beroperasi sebagai false‑nine, serta gelandang kreatif Álvaro Méndez yang mengatur alur permainan dari zona tengah. Kedua pemain tersebut menjadi contoh nyata bagaimana rotasi posisi dan kebebasan bergerak dapat menciptakan keunggulan numerik di daerah pertengahan lapangan.
Puncak tantangan datang pada tanggal 18 Mei 2026, ketika Racing Santander menjamu Real Valladolid dalam pertandingan yang sangat dinanti. Kedua tim berada di zona tengah klasemen, dan hasil pertemuan tersebut dapat menentukan peluang promosi ke La Liga. Pertandingan berlangsung sengit, dengan kedua sisi saling menukar serangan. Racing membuka skor lewat tendangan bebas yang dieksekusi oleh González pada menit ke‑23, memanfaatkan posisi tinggi bek lawan yang terdesak oleh tekanan tinggi tim. Namun, Real Valladolid tidak tinggal diam; mereka membalas pada menit ke‑37 melalui gol tunggal dari striker mereka, memperkecil selisih menjadi satu gol.
Di babak kedua, taktik relasional José Alberto semakin terlihat. Ia menurunkan garis pertahanan lebih jauh, memberi kebebasan kepada bek sayap untuk naik dan ikut dalam serangan. Hasilnya, Racing menciptakan sejumlah peluang lewat serangan balik cepat, namun pertahanan Valladolid yang disiplin berhasil menahan tekanan hingga menit ke‑78, ketika González kembali menemukan jaringan gawang lawan lewat satu‑dua dengan Méndez. Gol kedua ini mengunci kemenangan 2‑1 bagi Racing Santander, sekaligus mengukuhkan posisi mereka di peringkat tiga klasemen.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras staf pelatih dalam mengimplementasikan latihan taktik yang menekankan pada pergerakan tanpa bola. Sesi latihan harian meliputi drill “positional interchange” dimana pemain latihan berpindah peran secara bergantian, meniru pola yang biasa terlihat pada tim‑tim yang mengusung permainan relasional. Pendekatan ini juga meningkatkan pemahaman pemain tentang pentingnya menempati ruang kosong, sebuah konsep yang dulu dijabarkan oleh Guardiola dalam model 4‑3‑3, namun kini dimodernisasi menjadi struktur 2‑2‑6 yang lebih menekankan pada kedalaman dan lebar lapangan.
Selain taktik, aspek psikologis juga menjadi faktor penting. José Alberto diketahui menekankan pada mentalitas kolektif, menumbuhkan rasa percaya diri di antara pemain muda. Ia sering mengadakan pertemuan tim sebelum dan sesudah latihan untuk membahas peran masing‑masing dalam skema permainan, serta memberikan pujian atas inisiatif individu yang mendukung strategi tim. Pendekatan ini terbukti meningkatkan kohesi grup, terlihat jelas dalam cara tim mempertahankan konsistensi performa meski menghadapi tekanan jadwal yang padat.
Melihat perkembangan Racing Santander, ada indikasi kuat bahwa klub ini dapat menjadi contoh bagi tim‑tim Segunda Divisi lain yang ingin mengadopsi taktik modern tanpa harus meniru secara mentah‑mentah gaya klasik. Dengan kombinasi antara kepemimpinan taktikal José Alberto, inspirasi dari inovasi Kompany, dan dukungan suporter setia, Racing Santander berada pada jalur yang tepat untuk bersaing demi promosi ke level tertinggi kompetisi Spanyol.
Ke depan, tantangan utama tetap pada mempertahankan konsistensi hasil, terutama menjelang akhir musim di mana persaingan semakin ketat. Namun, dengan fondasi taktik yang kuat dan mentalitas juara yang terus ditumbuhkan, Racing Santander memiliki peluang besar untuk menutup musim ini dengan posisi promosi, sekaligus menuliskan babak baru dalam sejarah klub yang kembali bangkit.
