Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Di sudut jalan Warakas, Jakarta Utara, sosok pria berusia lanjut dengan kursi roda menjadi pemandangan yang tak lagi asing. Ia adalah Pak Tarno, mantan pesulap senior yang pernah menghiasi layar televisi nasional dengan aksi-aksi sulapnya. Meski kini mengandalkan kursi roda, semangatnya untuk menghibur tetap menyala. Setiap pagi, ia menata beragam mainan plastik di samping kursinya, menunggu anak‑anak sekolah melintas untuk membeli.
Karier Pak Tarno menapaki puncak popularitas pada era 1980‑1990, ketika nama “Tarno” menjadi simbol keajaiban di rumah-rumah Indonesia. Ia dikenal karena trik‑trik klasik yang memukau, mulai dari menghilangkan koin hingga ilusi melayang. Penampilannya di acara televisi mengukir jejak kuat di ingatan generasi lama, menjadikannya figur legendaris dalam dunia sulap tanah air.
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Pak Tarno berubah. Setelah mengalami serangan stroke beberapa tahun lalu, ia harus beralih ke kursi roda sebagai alat mobilitas utama. Alih-alih menyerah, ia memanfaatkan situasi tersebut dengan beralih menjadi penjual mainan. Penjualan tidak sekadar mencari nafkah; bagi Pak Tarno, kegiatan ini menjadi terapi aktif yang menjaga tubuh tetap bergerak dan pikiran tetap terstimulasi.
Pada akhir pekan, Pak Tarno kembali menghidupkan panggung sulap. Ia menampilkan trik‑trik sederhana di pasar malam, menarik penonton yang masih mengingat kehebatannya dulu. Di siang hari, khususnya di kawasan Kota Tua, ia sering membantu wisatawan berfoto, menerima sumbangan sukarela. Kegiatan ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat sekitar.
Kesehatan tetap menjadi tantangan utama. Pak Tarno menjalani pemeriksaan darah rutin dan sesi terapi alternatif yang pernah ia coba sejak masa pemulihan. Penggunaan kursi roda menjadi keharusan, namun ia berusaha tetap mandiri dengan mengatur penjualan mainan secara efisien. Semangatnya untuk terus menghibur tidak surut, meski harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan fisik.
Di luar panggung dan lapak, kehidupan pribadi Pak Tarno menarik perhatian publik. Dalam sebuah wawancara televisi “Pagi‑Pagi Ambyar” di Trans TV, ia mengungkap memiliki tiga istri sekaligus. Percakapan tersebut menimbulkan perbincangan hangat ketika host menanyakan rencana menambah istri lagi. Istri keduanya, Lisa, menjawab bahwa Pak Tarno memang menginginkan pasangan tambahan, meskipun sang suami menolak secara halus. Fakta ini menambah dimensi manusiawi pada sosok yang selama ini dikenal lewat ilusi.
Masyarakat sekitar Warakas tidak tinggal diam. Warga sering memberikan uang sumbangan atau sekadar senyuman sebagai bentuk dukungan moral. Mereka menghargai usaha Pak Tarno untuk tetap produktif dan menginspirasi, terutama bagi mereka yang menghadapi masa tua dengan keterbatasan. Keberadaannya menjadi simbol ketangguhan, menunjukkan bahwa semangat seni dapat terus hidup meski dalam kondisi yang berubah.
Secara keseluruhan, perjalanan Pak Tarno menggambarkan adaptasi seorang seniman terhadap perubahan fisik dan ekonomi tanpa mengorbankan panggilan hatinya. Dari sorotan lampu panggung televisi hingga roda‑roda yang membawanya berkeliling, ia terus menebar kebahagiaan melalui sulap, penjualan mainan, dan interaksi sederhana dengan warga. Ketangguhan, kreativitas, dan rasa syukur yang ditunjukkannya menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang berada pada fase kehidupan serupa.
