Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 12 Juni 2026 | Tiongkok kembali menegaskan posisinya sebagai pemain utama di pasar kendaraan listrik. Pada Mei 2026, kendaraan listrik (EV) menguasai 62,9 persen pangsa pasar penjualan ritel di Tiongkok, meskipun subsidi telah dihapuskan. Rekor tertinggi baru ini disebabkan oleh penurunan penjualan mobil konvensional atau internal combustion engine (ICE), yang membuat kendaraan energi baru (NEV) menduduki peringkat 10 model terlaris.
Sementara itu, di kancah internasional, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. AS melancarkan serangan ke arah Iran, yang memicu serangan balasan dari Iran. Tiongkok, sebagai salah satu negara dengan kepentingan strategis di kawasan Timur Tengah, menyerukan agar kedua belah pihak menghentikan pertempuran dan kembali ke meja perundingan.
Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) terus mempercepat dan memperluas skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing, terutama dolar AS. BI juga menggalakkan transaksi valas bilateral dengan Tiongkok, yang dinilai dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kedaulatan ekonomi nasional.
Perusahaan minyak AS juga dinilai sebagai pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz, karena mereka dapat memperoleh keunggulan nonkompetitif dan menjual pasokan dengan harga lebih tinggi. Sementara itu, Tiongkok dinilai memiliki energy security yang paling kuat, berkat investasi besar-besaran dalam energi terbarukan dan infrastruktur transportasi berbiaya rendah.
Kendaraan listrik telah menjadi pendorong pertumbuhan utama bagi usaha patungan antara perusahaan global dan produsen mobil Tiongkok. Misalnya, pengiriman Volkswagen ID. Era 9X mencapai 5.004 unit, Nio mengirimkan 11.472 unit ES8, dan Zeekr milik Geely menyerahkan 9.058 unit crossover 9X kepada para pemiliknya.
Kesimpulan, Tiongkok terus memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik, sementara konflik AS-Iran kembali meningkat. BI terus mempercepat dan memperluas skema LCT untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing. Perusahaan minyak AS dinilai sebagai pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz, sementara Tiongkok memiliki energy security yang paling kuat.
